السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد
لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات
أعمالنا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده
ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Hari-hari Idul Adha telah berlalu. Kumandang takbir yang menggema di masjid dan mushala mulai mereda. Hewan-hewan kurban telah disembelih, daging telah dibagikan, dan sebagian besar dari kita telah kembali menjalani rutinitas seperti biasa.
Namun pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah:
Apakah Idul Adha hanya meninggalkan kenangan, atau
meninggalkan perubahan dalam kehidupan kita?
Karena sesungguhnya, nilai terbesar dari Idul Adha bukan
terletak pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan pada sejauh mana hati
kita semakin dekat kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
﴿لَنْ
يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى
مِنْكُمْ﴾
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali
tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan
kalian." (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak membutuhkan
daging ataupun darah kurban. Yang Allah lihat adalah keikhlasan, ketaatan, dan
ketakwaan yang tumbuh dalam diri seorang hamba.
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari kisah agung Nabi
Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.
Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih
putranya yang sangat dicintainya, beliau tidak membantah. Beliau tidak menunda.
Beliau tidak mencari alasan.
Allah mengabadikan dialog yang mengharukan itu:
﴿يَا
بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ
الصَّابِرِينَ﴾
"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu." Ismail
menjawab, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.
Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Inilah pelajaran terbesar Idul Adha: ketaatan di atas
kepentingan pribadi, cinta kepada Allah di atas segala-galanya.
Jamaah yang berbahagia,
Tidak semua orang mampu berkurban dengan hewan setiap tahun.
Namun setiap muslim sesungguhnya mampu berkurban dalam bentuk yang lain.
Setelah Idul Adha, marilah kita bertanya kepada diri
sendiri:
- Sudahkah
kita mengurbankan ego dan kesombongan?
- Sudahkah
kita mengurbankan sifat malas dalam beribadah?
- Sudahkah
kita mengurbankan amarah yang sering merusak hubungan?
- Sudahkah
kita mengurbankan kecintaan berlebihan terhadap dunia?
Karena terkadang yang paling sulit dikorbankan bukan kambing
atau sapi, tetapi hawa nafsu yang bercokol di dalam diri.
Allah berfirman:
﴿وَأَمَّا
مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ
الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ﴾
"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya
dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat
tinggalnya." (QS. An-Nazi'at: 40-41)
Menjaga Semangat Berbagi
Salah satu hikmah Idul Adha adalah tumbuhnya kepedulian
sosial.
Saat hari raya, kita melihat senyum orang-orang yang
menerima daging kurban. Kita menyaksikan kebahagiaan saudara-saudara kita yang
mungkin jarang menikmati makanan bergizi.
Maka jangan biarkan semangat berbagi itu berhenti setelah
Idul Adha.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«أَحَبُّ
النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»
"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang
paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ath-Thabrani)
Jadilah muslim yang kehadirannya membawa manfaat, bukan
hanya pada bulan tertentu, tetapi sepanjang waktu.
Saudara-saudaraku,
Di era media sosial saat ini, sering kali kita sibuk
menampilkan citra diri yang baik di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki
hubungan dengan Allah.
Kita mudah mengunggah foto kurban, tetapi belum tentu mudah
menjaga keikhlasan.
Kita mudah membagikan ucapan Idul Adha, tetapi belum tentu
mudah mengamalkan nilai-nilainya.
Karena itu, pasca Idul Adha mari kita perbarui niat:
- Lebih
rajin shalat berjamaah.
- Lebih
dekat dengan Al-Qur'an.
- Lebih
santun dalam bermedia sosial.
- Lebih
peduli kepada sesama.
- Lebih
ikhlas dalam beramal.
Idul Adha telah mengajarkan kepada kita tentang keikhlasan
Nabi Ibrahim, kesabaran Nabi Ismail, dan ketaatan yang sempurna kepada Allah
SWT.
Jangan biarkan semangat itu berhenti ketika hari raya
berakhir.
Mari jadikan hari-hari setelah Idul Adha sebagai momentum
untuk menjadi hamba yang lebih bertakwa, lebih ikhlas, lebih peduli, dan lebih
dekat kepada Allah.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, menerima
kurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk
orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan.
اللهم
تقبل منا إنك أنت السميع العليم، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين
يا رب العالمين
والله
أعلم بالصواب
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ
اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong
