Kamis, 18 Juni 2026

Perubahan Besar Selalu Berawal dari Hati yang Tulus

Tahun Baru Hijriah, Saatnya Memperbaiki Niat

Setiap datangnya Tahun Baru Hijriah, kaum muslimin diingatkan kembali pada peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah.

Namun hijrah bukan sekadar perpindahan tempat.

Hijrah adalah perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Hijrah adalah perubahan dari yang buruk menjadi baik, dari yang lalai menjadi sadar, dari yang jauh menjadi dekat kepada Allah SWT.

Dan semua perubahan besar itu selalu dimulai dari satu hal yang sederhana namun sangat menentukan, yaitu niat.


Karena tanpa niat yang benar, langkah yang besar sekalipun bisa kehilangan nilainya di sisi Allah.

Niat Adalah Pondasi Segala Amal

Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini merupakan salah satu hadis paling agung dalam Islam.

Para ulama bahkan menyebutnya sebagai seperempat ajaran agama Islam karena hampir seluruh amal bergantung pada niat.

Orang yang rajin beribadah tetapi mencari pujian manusia akan berbeda nilainya dengan orang yang beribadah karena mengharap ridha Allah.

Begitu pula seseorang yang ingin berhijrah. Jika niatnya hanya mengikuti tren, maka semangatnya akan mudah pudar. Namun jika niatnya karena Allah, maka ia akan tetap istiqamah meskipun menghadapi berbagai ujian.

Makna Hijrah yang Sesungguhnya

Banyak orang mengira hijrah hanya identik dengan perubahan penampilan.

Padahal makna hijrah jauh lebih luas daripada itu.

Hijrah adalah proses memperbaiki diri secara menyeluruh.

Rasulullah bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. Bukhari)

Artinya, siapa pun yang meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, maka ia sedang berhijrah.

Siapa pun yang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, maka ia sedang berhijrah.

Siapa pun yang memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia, maka ia sedang menjalani perjalanan hijrah.

Hijrah Dimulai Dari Niat Untuk...

1. Meninggalkan Maksiat dan Kebiasaan Buruk

Setiap manusia memiliki kekurangan dan dosa.

Hijrah dimulai ketika seseorang bertekad meninggalkan kebiasaan yang tidak diridhai Allah.

Mulai dari menjaga lisan, menjaga pandangan, meninggalkan ghibah, fitnah, serta berbagai perbuatan yang merusak hati.

2. Memperbaiki Diri dan Mendekat Kepada Allah

Hijrah bukan hanya meninggalkan yang buruk.

Tetapi juga memperbanyak amal kebaikan.

Memperbaiki kualitas shalat.

Memperbanyak membaca Al-Qur'an.

Memperbanyak dzikir dan doa.

Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

3. Menebar Kebaikan dan Manfaat

Seorang muslim yang berhijrah akan berusaha menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Bukan hanya memikirkan dirinya sendiri.

Tetapi juga peduli terhadap keluarga, tetangga, masyarakat, dan umat.

Karena Rasulullah bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)

4. Menjaga Hati, Lisan dan Perbuatan

Hijrah sejati tidak hanya terlihat dari luar.

Tetapi juga tampak dari kebersihan hati.

Menjauhi iri, dengki, sombong dan prasangka buruk.

Mengendalikan ucapan agar tidak menyakiti orang lain.

Serta menjaga perilaku agar selalu mencerminkan akhlak mulia.

Perubahan Besar Berawal dari Langkah Kecil

Banyak orang ingin langsung berubah secara drastis.

Padahal perubahan yang bertahan lama biasanya dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara istiqamah.

Mulailah dari:

Shalat tepat waktu

Membaca Al-Qur'an beberapa ayat setiap hari

Bersedekah meskipun sedikit

Menjaga ucapan

Memperbanyak istighfar

Sedikit demi sedikit, Allah akan membimbing kita menuju perubahan yang lebih besar.

Tahun Baru Hijriah Adalah Momentum Memulai

Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka.

Tetapi momentum untuk memperbaharui niat.

Membuka lembaran baru kehidupan.

Memperbaiki kesalahan masa lalu.

Dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik.  Allah SWT berfirman:

 وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

 "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut: 69)

 

Hijrah bukan perjalanan satu hari.

 Hijrah adalah perjalanan seumur hidup.

 Tidak ada manusia yang langsung sempurna.

 Tetapi setiap muslim diperintahkan untuk terus memperbaiki diri.

 Mulailah hari ini.

 Mulailah dari niat yang tulus karena Allah.

 Karena perubahan besar selalu berawal dari niat yang kecil, namun ikhlas.

"Hijrah dimulai dari niat. Niat yang benar akan melahirkan langkah yang benar, dan langkah yang benar akan mengantarkan kepada ridha Allah."

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

 

📘 Facebook : mazkiemochiem

📷 Instagram : @mazkiemochiem

🎵 TikTok : @mazkiemochiem

▶️ YouTube : Lengera 3429

Sabtu, 06 Juni 2026

Renungan Pasca Idul Adha: Apakah Kita Sudah Berkurban untuk Allah?

 السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين


Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Hari-hari Idul Adha telah berlalu. Kumandang takbir yang menggema di masjid dan mushala mulai mereda. Hewan-hewan kurban telah disembelih, daging telah dibagikan, dan sebagian besar dari kita telah kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Namun pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah:

Apakah Idul Adha hanya meninggalkan kenangan, atau meninggalkan perubahan dalam kehidupan kita?

Karena sesungguhnya, nilai terbesar dari Idul Adha bukan terletak pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan pada sejauh mana hati kita semakin dekat kepada Allah SWT.

Allah berfirman:

﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ﴾

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak membutuhkan daging ataupun darah kurban. Yang Allah lihat adalah keikhlasan, ketaatan, dan ketakwaan yang tumbuh dalam diri seorang hamba.

 Belajar dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Saudaraku yang dimuliakan Allah,

Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.

Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya yang sangat dicintainya, beliau tidak membantah. Beliau tidak menunda. Beliau tidak mencari alasan.

Sebaliknya, beliau tunduk dan patuh kepada perintah Allah.

Allah mengabadikan dialog yang mengharukan itu:

﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu." Ismail menjawab, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102)

Inilah pelajaran terbesar Idul Adha: ketaatan di atas kepentingan pribadi, cinta kepada Allah di atas segala-galanya.

 Kurban yang Sesungguhnya

Jamaah yang berbahagia,

Tidak semua orang mampu berkurban dengan hewan setiap tahun. Namun setiap muslim sesungguhnya mampu berkurban dalam bentuk yang lain.

Setelah Idul Adha, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

  • Sudahkah kita mengurbankan ego dan kesombongan?
  • Sudahkah kita mengurbankan sifat malas dalam beribadah?
  • Sudahkah kita mengurbankan amarah yang sering merusak hubungan?
  • Sudahkah kita mengurbankan kecintaan berlebihan terhadap dunia?

Karena terkadang yang paling sulit dikorbankan bukan kambing atau sapi, tetapi hawa nafsu yang bercokol di dalam diri.

Allah berfirman:

﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ﴾

"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Nazi'at: 40-41)

Menjaga Semangat Berbagi

Salah satu hikmah Idul Adha adalah tumbuhnya kepedulian sosial.

Saat hari raya, kita melihat senyum orang-orang yang menerima daging kurban. Kita menyaksikan kebahagiaan saudara-saudara kita yang mungkin jarang menikmati makanan bergizi.

Maka jangan biarkan semangat berbagi itu berhenti setelah Idul Adha.

Rasulullah bersabda:

«أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»

"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ath-Thabrani)

Jadilah muslim yang kehadirannya membawa manfaat, bukan hanya pada bulan tertentu, tetapi sepanjang waktu.

 Refleksi untuk Era Digital

Saudara-saudaraku,

Di era media sosial saat ini, sering kali kita sibuk menampilkan citra diri yang baik di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.

Kita mudah mengunggah foto kurban, tetapi belum tentu mudah menjaga keikhlasan.

Kita mudah membagikan ucapan Idul Adha, tetapi belum tentu mudah mengamalkan nilai-nilainya.

Karena itu, pasca Idul Adha mari kita perbarui niat:

  • Lebih rajin shalat berjamaah.
  • Lebih dekat dengan Al-Qur'an.
  • Lebih santun dalam bermedia sosial.
  • Lebih peduli kepada sesama.
  • Lebih ikhlas dalam beramal.

 Saudaraku yang dirahmati Allah,

Idul Adha telah mengajarkan kepada kita tentang keikhlasan Nabi Ibrahim, kesabaran Nabi Ismail, dan ketaatan yang sempurna kepada Allah SWT.

Jangan biarkan semangat itu berhenti ketika hari raya berakhir.

Mari jadikan hari-hari setelah Idul Adha sebagai momentum untuk menjadi hamba yang lebih bertakwa, lebih ikhlas, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, menerima kurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan.

اللهم تقبل منا إنك أنت السميع العليم، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين يا رب العالمين

والله أعلم بالصواب

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Perubahan Besar Selalu Berawal dari Hati yang Tulus

Tahun Baru Hijriah, Saatnya Memperbaiki Niat Setiap datangnya Tahun Baru Hijriah, kaum muslimin diingatkan kembali pada peristiwa besar da...