Tampilkan postingan dengan label RUANG SULUH AGAMA ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUANG SULUH AGAMA ISLAM. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2026

Renungan Pasca Idul Adha: Apakah Kita Sudah Berkurban untuk Allah?

 السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين


Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Hari-hari Idul Adha telah berlalu. Kumandang takbir yang menggema di masjid dan mushala mulai mereda. Hewan-hewan kurban telah disembelih, daging telah dibagikan, dan sebagian besar dari kita telah kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Namun pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah:

Apakah Idul Adha hanya meninggalkan kenangan, atau meninggalkan perubahan dalam kehidupan kita?

Karena sesungguhnya, nilai terbesar dari Idul Adha bukan terletak pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan pada sejauh mana hati kita semakin dekat kepada Allah SWT.

Allah berfirman:

﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ﴾

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak membutuhkan daging ataupun darah kurban. Yang Allah lihat adalah keikhlasan, ketaatan, dan ketakwaan yang tumbuh dalam diri seorang hamba.

 Belajar dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Saudaraku yang dimuliakan Allah,

Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.

Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya yang sangat dicintainya, beliau tidak membantah. Beliau tidak menunda. Beliau tidak mencari alasan.

Sebaliknya, beliau tunduk dan patuh kepada perintah Allah.

Allah mengabadikan dialog yang mengharukan itu:

﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu." Ismail menjawab, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102)

Inilah pelajaran terbesar Idul Adha: ketaatan di atas kepentingan pribadi, cinta kepada Allah di atas segala-galanya.

 Kurban yang Sesungguhnya

Jamaah yang berbahagia,

Tidak semua orang mampu berkurban dengan hewan setiap tahun. Namun setiap muslim sesungguhnya mampu berkurban dalam bentuk yang lain.

Setelah Idul Adha, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

  • Sudahkah kita mengurbankan ego dan kesombongan?
  • Sudahkah kita mengurbankan sifat malas dalam beribadah?
  • Sudahkah kita mengurbankan amarah yang sering merusak hubungan?
  • Sudahkah kita mengurbankan kecintaan berlebihan terhadap dunia?

Karena terkadang yang paling sulit dikorbankan bukan kambing atau sapi, tetapi hawa nafsu yang bercokol di dalam diri.

Allah berfirman:

﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ﴾

"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Nazi'at: 40-41)

Menjaga Semangat Berbagi

Salah satu hikmah Idul Adha adalah tumbuhnya kepedulian sosial.

Saat hari raya, kita melihat senyum orang-orang yang menerima daging kurban. Kita menyaksikan kebahagiaan saudara-saudara kita yang mungkin jarang menikmati makanan bergizi.

Maka jangan biarkan semangat berbagi itu berhenti setelah Idul Adha.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»

"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ath-Thabrani)

Jadilah muslim yang kehadirannya membawa manfaat, bukan hanya pada bulan tertentu, tetapi sepanjang waktu.

 Refleksi untuk Era Digital

Saudara-saudaraku,

Di era media sosial saat ini, sering kali kita sibuk menampilkan citra diri yang baik di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.

Kita mudah mengunggah foto kurban, tetapi belum tentu mudah menjaga keikhlasan.

Kita mudah membagikan ucapan Idul Adha, tetapi belum tentu mudah mengamalkan nilai-nilainya.

Karena itu, pasca Idul Adha mari kita perbarui niat:

  • Lebih rajin shalat berjamaah.
  • Lebih dekat dengan Al-Qur'an.
  • Lebih santun dalam bermedia sosial.
  • Lebih peduli kepada sesama.
  • Lebih ikhlas dalam beramal.

 Saudaraku yang dirahmati Allah,

Idul Adha telah mengajarkan kepada kita tentang keikhlasan Nabi Ibrahim, kesabaran Nabi Ismail, dan ketaatan yang sempurna kepada Allah SWT.

Jangan biarkan semangat itu berhenti ketika hari raya berakhir.

Mari jadikan hari-hari setelah Idul Adha sebagai momentum untuk menjadi hamba yang lebih bertakwa, lebih ikhlas, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, menerima kurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan.

اللهم تقبل منا إنك أنت السميع العليم، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين يا رب العالمين

والله أعلم بالصواب

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Selasa, 26 Mei 2026

Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah

 Idul Adha: Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah

Oleh: Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong

 

Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, bukan hanya tentang hewan kurban yang disembelih, bukan pula sekadar berkumpul bersama keluarga dan menikmati hidangan istimewa. Di balik suasana takbir yang menggema dan kebersamaan yang terasa hangat, tersimpan pelajaran yang sangat besar tentang keikhlasan, ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian kepada sesama.

Idul Adha mengingatkan umat Islam kepada kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS, kisah yang hingga hari ini tetap menjadi pelajaran sepanjang zaman.

 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Artinya:

"Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu. Dia (Ismail) menjawab: Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Bayangkan, Nabi Ibrahim yang bertahun-tahun menanti kehadiran seorang anak, justru diperintahkan
untuk mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya.

Namun beliau mengajarkan satu hal penting: ketaatan kepada Allah harus berada di atas segala-galanya.

Sebagian orang berpikir bahwa kurban hanya dilakukan ketika menyembelih kambing atau sapi. Padahal makna kurban jauh lebih luas dari itu.

Setiap hari sesungguhnya kita sedang belajar berkurban:

  • berkurban waktu untuk keluarga,
  • berkurban tenaga untuk kebaikan,
  • berkurban harta untuk membantu sesama,
  • berkurban ego demi menjaga persaudaraan,
  • bahkan berkurban keinginan diri demi ketaatan kepada Allah.

Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
(الحج: ٣٧)

Artinya:

"Daging dan darah kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian."

 Di era sekarang, manusia sering diuji bukan dengan kehilangan sesuatu, tetapi dengan kecintaan berlebihan terhadap dunia:

  • sibuk mengejar pekerjaan,
  • sibuk mengejar jabatan,
  • sibuk mengejar popularitas,
  • sibuk dengan media sosial,
  • hingga terkadang lupa pada keluarga dan ibadah.

Idul Adha hadir untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar mengejar dunia, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat hubungan dengan sesama manusia.

 

Mari jadikan Idul Adha bukan hanya acara tahunan, tetapi sebagai momentum untuk memperbaiki diri:

memperkuat keikhlasan
memperbanyak rasa syukur
mempererat silaturahmi
meningkatkan kepedulian sosial
memperkuat hubungan dengan Allah

Karena orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki harta paling banyak, tetapi yang memiliki hati yang penuh syukur dan kepedulian.

 Semoga Hari Raya Idul Adha tidak hanya menghadirkan kebahagiaan sesaat, tetapi juga menghadirkan perubahan dalam diri kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih ikhlas, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

"Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan amal ibadah kalian."

Mohon maaf lahir dan batin.

Jangan Menuntut Pasangan Sempurna, Belajarlah Menjadi Pasangan yang Sempurna dalam Kebaikan

 Pernahkah kita merasa kecewa kepada pasangan karena ternyata ia tidak seperti yang kita bayangkan? Sebelum menikah, mungkin kita membayan...