Berbagi Itu Indah
Belajar dan berbagi
Rabu, 22 Juli 2026
Tetap Teguh di Tengah Ketidakpastian: Aqidah yang Kokoh, Akhlak yang Mulia
Assalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Alhamdulillāhi
Rabbil 'ālamīn. Segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta'ālā yang telah
melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita untuk
kembali berkumpul dalam majelis ilmu, meskipun melalui media podcast.
Shalawat dan
salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para
sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Saudaraku
yang dirahmati Allah...
Beberapa
waktu terakhir, banyak di antara kita merasakan kegelisahan. Harga kebutuhan
pokok berubah, peluang usaha naik turun, lapangan pekerjaan menjadi tantangan,
dan berbagai kebijakan yang terus berkembang membuat sebagian orang
bertanya-tanya tentang masa depan.
Dalam
keadaan seperti ini, seorang mukmin perlu memiliki pegangan yang kokoh.
Pegangan itu bukan sekadar kemampuan membaca situasi, tetapi aqidah yang benar
dan akhlak yang mulia. Itulah yang akan kita bahas hari ini.
Dunia Memang Tempat Ujian
Saudaraku...
Allah tidak
pernah menjanjikan bahwa kehidupan dunia akan selalu mudah.
Justru Allah
mengingatkan bahwa dunia adalah tempat ujian.
Allah SWT
berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)
Perhatikan
ayat ini.
Allah tidak
mengatakan "jika" ujian datang.
Tetapi Allah
mengatakan "Kami pasti akan menguji kalian."
Artinya,
ujian adalah bagian dari kehidupan setiap manusia.
Yang
membedakan bukan siapa yang diuji.
Tetapi
bagaimana seseorang menghadapi ujian itu.
Aqidah Mengajarkan Tawakal, Bukan Putus Asa
![]() |
| SPORTIFY LENTERA |
Allah
berfirman:
وَمَا
مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
"Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya." (QS. Hud: 6)
Ini bukan
berarti kita berpangku tangan.
Nabi ﷺ mengajarkan keseimbangan
antara tawakal dan ikhtiar.
Beliau
bersabda:
"Seandainya
kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian
akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Burung itu pergi pada pagi
hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang."
(HR.
Ahmad dan at-Tirmidzi, dinilai sahih oleh sebagian ulama)
Perhatikan,
burung tidak menunggu makanan datang ke sarangnya. Ia terbang, berusaha, lalu
bertawakal. Demikian pula seorang mukmin.
Jangan
Mudah Terprovokasi
Di masa yang
penuh informasi seperti sekarang, kita mudah menerima berita yang belum tentu
benar.
Allah SWT
mengingatkan:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)
Akhlak
seorang muslim adalah menjaga lisan dan jemarinya. Jangan menyebarkan kabar
yang belum jelas. Jangan menambah keresahan masyarakat dengan informasi yang
tidak terverifikasi.
Sabar
Bukan Berarti Pasrah
"الصبر
بمنزلة الرأس من الجسد"
"Kedudukan
sabar terhadap iman seperti kepala terhadap tubuh." ('Uddatush
Shabirin)
Sabar
memiliki tiga bentuk:
1.
Sabar dalam menaati Allah.
2.
Sabar meninggalkan maksiat.
3.
Sabar menghadapi takdir yang tidak menyenangkan.
Maka ketika
ekonomi sedang sulit, jangan tinggalkan shalat.
Ketika usaha
menurun, jangan mencari jalan yang haram.
Ketika
keadaan belum sesuai harapan, jangan putus asa dari rahmat Allah.
Menjadi
Penebar Optimisme
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam
menebarkan harapan.
Saat Perang
Khandaq, kaum muslimin berada dalam keadaan sulit. Namun Rasulullah ﷺ tetap menanamkan optimisme dan
mengingatkan bahwa pertolongan Allah pasti datang.
Allah
berfirman:
فَإِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh: 5–6)
Perhatikan,
Allah tidak mengatakan "setelah kesulitan", tetapi "bersama
kesulitan". Ini memberi harapan bahwa di tengah ujian pun Allah
menghadirkan jalan keluar.
Ikhtiar yang Diberkahi
Dalam
menghadapi kondisi yang tidak menentu, mari lakukan ikhtiar yang diridhai
Allah:
- Perbanyak doa dan istighfar.
- Jaga shalat lima waktu dan
perbanyak shalat sunnah.
- Tingkatkan keterampilan dan etos
kerja.
- Hindari utang yang tidak perlu.
- Perkuat silaturahmi dan gotong
royong.
- Sisihkan sebagian rezeki untuk
sedekah, meskipun sedikit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَا
نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ"
"Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim)
Saudaraku...
Keadaan
boleh berubah.
Ekonomi bisa
naik dan turun.
Situasi
sosial dapat mengalami pasang surut.
Namun jangan
biarkan iman kita ikut goyah.
Peganglah
aqidah dengan kuat.
Hiasi diri
dengan akhlak yang mulia.
Teruslah
berikhtiar, bersabar, bertawakal, dan berdoa.
Semoga Allah
menjaga negeri kita, memberikan keberkahan kepada para pemimpinnya agar mampu
menunaikan amanah dengan adil, melapangkan rezeki masyarakat, menguatkan
persatuan, serta menjadikan kita hamba-hamba yang tetap teguh dalam iman di
setiap keadaan.
رَبَّنَا
أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ
الْكَافِرِينَ
"Ya
Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah pendirian
kami..."
(QS. Al-Baqarah: 250)
Aamiin yā
Rabbal 'ālamīn.
Wassalāmu'alaikum
warahmatullāhi wabarakātuh.
Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati
Kamis, 18 Juni 2026
Perubahan Besar Selalu Berawal dari Hati yang Tulus
Tahun Baru Hijriah, Saatnya Memperbaiki Niat
Setiap datangnya Tahun Baru Hijriah, kaum muslimin diingatkan kembali pada peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah.
Namun hijrah bukan sekadar perpindahan tempat.
Hijrah adalah perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Hijrah adalah perubahan dari yang buruk menjadi baik, dari yang lalai menjadi sadar, dari yang jauh menjadi dekat kepada Allah SWT.
Dan semua perubahan besar itu selalu dimulai dari satu hal yang sederhana namun sangat menentukan, yaitu niat.
Karena tanpa niat yang benar, langkah yang besar sekalipun
bisa kehilangan nilainya di sisi Allah.
Niat Adalah Pondasi Segala Amal
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini merupakan salah satu hadis paling agung dalam Islam.
Para ulama bahkan menyebutnya sebagai seperempat ajaran agama Islam karena hampir seluruh amal bergantung pada niat.Orang yang rajin beribadah tetapi mencari pujian manusia akan berbeda nilainya dengan orang yang beribadah karena mengharap ridha Allah.
Begitu pula seseorang yang ingin berhijrah. Jika niatnya hanya mengikuti tren, maka semangatnya akan mudah pudar. Namun jika niatnya karena Allah, maka ia akan tetap istiqamah meskipun menghadapi berbagai ujian.
Makna Hijrah yang Sesungguhnya
Banyak orang mengira hijrah hanya identik dengan perubahan penampilan.
Padahal makna hijrah jauh lebih luas daripada itu.
Hijrah adalah proses memperbaiki diri secara menyeluruh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. Bukhari)
Artinya, siapa pun yang meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, maka ia sedang berhijrah.
Siapa pun yang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, maka ia sedang berhijrah.
Siapa pun yang memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia, maka ia sedang menjalani perjalanan hijrah.
Hijrah Dimulai Dari Niat
Untuk...
1. Meninggalkan Maksiat dan Kebiasaan Buruk
Setiap manusia memiliki kekurangan dan dosa.
Hijrah dimulai ketika seseorang bertekad meninggalkan kebiasaan yang tidak diridhai Allah.
Mulai dari menjaga lisan, menjaga pandangan, meninggalkan ghibah, fitnah, serta berbagai perbuatan yang merusak hati.
2. Memperbaiki Diri dan Mendekat Kepada Allah
Hijrah bukan hanya meninggalkan yang buruk.
Tetapi juga memperbanyak amal kebaikan.
Memperbaiki kualitas shalat.
Memperbanyak membaca Al-Qur'an.
Memperbanyak dzikir dan doa.
Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
3. Menebar Kebaikan dan Manfaat
Seorang muslim yang berhijrah akan berusaha menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Bukan hanya memikirkan dirinya sendiri.
Tetapi juga peduli terhadap keluarga, tetangga, masyarakat, dan umat.
Karena Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)
4. Menjaga Hati, Lisan dan Perbuatan
Hijrah sejati tidak hanya terlihat dari luar.
Tetapi juga tampak dari kebersihan hati.
Menjauhi iri, dengki, sombong dan prasangka buruk.
Mengendalikan ucapan agar tidak menyakiti orang lain.
Serta menjaga perilaku agar selalu mencerminkan akhlak mulia.
Perubahan Besar Berawal dari Langkah Kecil
Banyak orang ingin langsung berubah secara drastis.
Padahal perubahan yang bertahan lama biasanya dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara istiqamah.
Mulailah dari:✅ Shalat tepat waktu
✅ Membaca Al-Qur'an beberapa ayat setiap hari
✅ Bersedekah meskipun sedikit
✅ Menjaga ucapan
✅ Memperbanyak istighfar
Sedikit demi sedikit, Allah akan membimbing kita menuju perubahan yang lebih besar.
Tahun Baru Hijriah Adalah Momentum Memulai
Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka.
Tetapi momentum untuk memperbaharui niat.
Membuka lembaran baru kehidupan.
Memperbaiki kesalahan masa lalu.
Dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
Hijrah bukan perjalanan satu hari.
"Hijrah dimulai dari niat. Niat yang benar akan melahirkan langkah yang benar, dan langkah yang benar akan mengantarkan kepada ridha Allah."
Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong
📘 Facebook :
mazkiemochiem
📷 Instagram :
@mazkiemochiem
🎵 TikTok : @mazkiemochiem
▶️ YouTube : Lengera 3429
Sabtu, 06 Juni 2026
Renungan Pasca Idul Adha: Apakah Kita Sudah Berkurban untuk Allah?
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد
لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات
أعمالنا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده
ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Hari-hari Idul Adha telah berlalu. Kumandang takbir yang menggema di masjid dan mushala mulai mereda. Hewan-hewan kurban telah disembelih, daging telah dibagikan, dan sebagian besar dari kita telah kembali menjalani rutinitas seperti biasa.
Namun pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah:
Apakah Idul Adha hanya meninggalkan kenangan, atau
meninggalkan perubahan dalam kehidupan kita?
Karena sesungguhnya, nilai terbesar dari Idul Adha bukan
terletak pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan pada sejauh mana hati
kita semakin dekat kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
﴿لَنْ
يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى
مِنْكُمْ﴾
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali
tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan
kalian." (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak membutuhkan
daging ataupun darah kurban. Yang Allah lihat adalah keikhlasan, ketaatan, dan
ketakwaan yang tumbuh dalam diri seorang hamba.
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari kisah agung Nabi
Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.
Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih
putranya yang sangat dicintainya, beliau tidak membantah. Beliau tidak menunda.
Beliau tidak mencari alasan.
Allah mengabadikan dialog yang mengharukan itu:
﴿يَا
بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ
الصَّابِرِينَ﴾
"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu." Ismail
menjawab, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.
Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Inilah pelajaran terbesar Idul Adha: ketaatan di atas
kepentingan pribadi, cinta kepada Allah di atas segala-galanya.
Jamaah yang berbahagia,
Tidak semua orang mampu berkurban dengan hewan setiap tahun.
Namun setiap muslim sesungguhnya mampu berkurban dalam bentuk yang lain.
Setelah Idul Adha, marilah kita bertanya kepada diri
sendiri:
- Sudahkah
kita mengurbankan ego dan kesombongan?
- Sudahkah
kita mengurbankan sifat malas dalam beribadah?
- Sudahkah
kita mengurbankan amarah yang sering merusak hubungan?
- Sudahkah
kita mengurbankan kecintaan berlebihan terhadap dunia?
Karena terkadang yang paling sulit dikorbankan bukan kambing
atau sapi, tetapi hawa nafsu yang bercokol di dalam diri.
Allah berfirman:
﴿وَأَمَّا
مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ
الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ﴾
"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya
dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat
tinggalnya." (QS. An-Nazi'at: 40-41)
Menjaga Semangat Berbagi
Salah satu hikmah Idul Adha adalah tumbuhnya kepedulian
sosial.
Saat hari raya, kita melihat senyum orang-orang yang
menerima daging kurban. Kita menyaksikan kebahagiaan saudara-saudara kita yang
mungkin jarang menikmati makanan bergizi.
Maka jangan biarkan semangat berbagi itu berhenti setelah
Idul Adha.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«أَحَبُّ
النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»
"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang
paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ath-Thabrani)
Jadilah muslim yang kehadirannya membawa manfaat, bukan
hanya pada bulan tertentu, tetapi sepanjang waktu.
Saudara-saudaraku,
Di era media sosial saat ini, sering kali kita sibuk
menampilkan citra diri yang baik di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki
hubungan dengan Allah.
Kita mudah mengunggah foto kurban, tetapi belum tentu mudah
menjaga keikhlasan.
Kita mudah membagikan ucapan Idul Adha, tetapi belum tentu
mudah mengamalkan nilai-nilainya.
Karena itu, pasca Idul Adha mari kita perbarui niat:
- Lebih
rajin shalat berjamaah.
- Lebih
dekat dengan Al-Qur'an.
- Lebih
santun dalam bermedia sosial.
- Lebih
peduli kepada sesama.
- Lebih
ikhlas dalam beramal.
Idul Adha telah mengajarkan kepada kita tentang keikhlasan
Nabi Ibrahim, kesabaran Nabi Ismail, dan ketaatan yang sempurna kepada Allah
SWT.
Jangan biarkan semangat itu berhenti ketika hari raya
berakhir.
Mari jadikan hari-hari setelah Idul Adha sebagai momentum
untuk menjadi hamba yang lebih bertakwa, lebih ikhlas, lebih peduli, dan lebih
dekat kepada Allah.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, menerima
kurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk
orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan.
اللهم
تقبل منا إنك أنت السميع العليم، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين
يا رب العالمين
والله
أعلم بالصواب
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ
اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong
Selasa, 26 Mei 2026
Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah
Idul Adha: Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah
Oleh: Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong
Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, bukan
hanya tentang hewan kurban yang disembelih, bukan pula sekadar berkumpul
bersama keluarga dan menikmati hidangan istimewa. Di balik suasana takbir yang
menggema dan kebersamaan yang terasa hangat, tersimpan pelajaran yang sangat
besar tentang keikhlasan, ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian kepada
sesama.
Idul Adha mengingatkan umat Islam kepada kisah agung Nabi
Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS, kisah yang hingga hari ini tetap
menjadi pelajaran sepanjang zaman.
فَلَمَّا
بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Artinya:
"Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup
berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana
pendapatmu. Dia (Ismail) menjawab: Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar."
untuk mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya.
Namun beliau mengajarkan satu hal penting: ketaatan
kepada Allah harus berada di atas segala-galanya.
Sebagian orang berpikir bahwa kurban hanya dilakukan ketika menyembelih kambing atau sapi. Padahal makna kurban jauh lebih luas dari itu.
Setiap hari sesungguhnya kita sedang belajar berkurban:
- berkurban
waktu untuk keluarga,
- berkurban
tenaga untuk kebaikan,
- berkurban
harta untuk membantu sesama,
- berkurban
ego demi menjaga persaudaraan,
- bahkan
berkurban keinginan diri demi ketaatan kepada Allah.
Allah berfirman:
لَنْ
يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ
مِنْكُمْ
(الحج:
٣٧)
Artinya:
"Daging dan darah kurban itu tidak akan sampai
kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian."
- sibuk
mengejar pekerjaan,
- sibuk
mengejar jabatan,
- sibuk
mengejar popularitas,
- sibuk
dengan media sosial,
- hingga
terkadang lupa pada keluarga dan ibadah.
Idul Adha hadir untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang
lebih penting daripada sekadar mengejar dunia, yaitu mendekatkan diri kepada
Allah dan memperkuat hubungan dengan sesama manusia.
memperkuat keikhlasan
memperbanyak rasa syukur
mempererat silaturahmi
meningkatkan kepedulian sosial
memperkuat hubungan dengan Allah
Karena orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki harta
paling banyak, tetapi yang memiliki hati yang penuh syukur dan kepedulian.
تَقَبَّلَ
اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
"Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan amal
ibadah kalian."
Mohon maaf lahir dan batin.
Minggu, 24 Mei 2026
Hari Tarwiyah : Menyiapkan Hati Menuju Ketaatan
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ
Pernahkah Kita Memikirkan Ini?
Saat akan bepergian jauh, kita menyiapkan banyak hal:
✔ pakaian
✔ uang saku
✔ makanan
✔ kendaraan
✔ bahkan daftar barang agar tidak ada yang tertinggal
Namun ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan:
Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk perjalanan menuju
Allah?
Di bulan Dzulhijjah, umat Islam mengenal Hari Tarwiyah,
yaitu tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum Hari Arafah. Di balik hari
ini tersimpan pelajaran yang sangat dalam tentang persiapan, bekal, dan
ketakwaan.
Apa Itu Hari Tarwiyah?
Secara bahasa, kata Tarwiyah berasal dari kata:
رَوَى – يَرْوِي
yang bermakna membawa persediaan air atau mempersiapkan
bekal.
Pada masa dahulu, para jamaah haji menyiapkan air sebelum
menuju Mina dan Arafah.
Namun jika direnungkan lebih dalam, Hari Tarwiyah bukan sekadar tentang persiapan fisik, melainkan juga pengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan bekal terbaik.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ (البقرة: ١٩٧)
Artinya:
"Berbekallah kalian karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan."
Manusia Sering Sibuk Menyiapkan yang Dekat, Tetapi Lupa dengan yang Jauh
Realitas hari ini menarik untuk diperhatikan.
Kita menyiapkan:
- gawai terbaru
- pekerjaan
- rumah
- tabungan
- kendaraan
Tetapi sering lupa menyiapkan:
- shalat yang khusyuk
- bacaan Al-Qur'an
- amal saleh
- hati yang bersih
- taubat dan istighfar
Padahal perjalanan dunia hanya sementara, sedangkan
perjalanan akhirat tidak ada batas akhirnya.
Hari Tarwiyah dan Kehidupan Kita Hari Ini
Banyak orang memiliki jadwal yang penuh.
Bangun pagi, bekerja, rapat, membuka media sosial, mengejar
target, lalu kembali tidur.
Hari berganti begitu cepat.
Kadang tanpa disadari, kita sibuk memperbarui status media
sosial tetapi lupa memperbarui hubungan dengan Allah.
Kita sibuk mengisi baterai tele
pon genggam hingga penuh,
tetapi membiarkan hati kosong dari dzikir.
Padahal hati juga membutuhkan "isi ulang".
Isi ulang hati dilakukan dengan:
- memperbanyak istighfar
- membaca Al-Qur'an
- berdzikir
- memperbaiki niat
- memperbanyak amal saleh
Pesan Hikmah Hari Ini
Hari Tarwiyah mengajarkan bahwa persiapan bukan hanya
urusan dunia, tetapi juga urusan akhirat.
Jangan hanya menyiapkan hidup untuk esok hari.
Siapkan juga kehidupan setelah hari ini.
Karena pada akhirnya bukan jabatan, harta, atau popularitas
yang menemani kita, tetapi amal yang pernah kita lakukan.
Muhasabah Diri
Coba tanyakan pada diri sendiri:
- Sudahkah
shalat kita semakin baik?
- Sudahkah
kita memperbanyak istighfar?
- Sudahkah
kita menyiapkan amal jariyah?
- Sudahkah
hati kita dekat dengan Allah?
Karena bekal terbaik bukanlah apa yang kita miliki, tetapi
apa yang kita bawa menuju akhirat.
Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong
Senin, 18 Mei 2026
KEUTAMAAN MEMASUKI BULAN DZULHIJJAH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
أَمَّا
بَعْدُ
Alhamdulillāh, segala puji
hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita nikmat
iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga pada hari ini kita
masih dapat berkumpul dalam majelis ilmu yang insyaAllah penuh keberkahan.
Shalawat serta salam semoga
selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ,
kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, dan seluruh
pengikut beliau hingga akhir zaman.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan
menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena sebaik-baik
bekal kehidupan adalah ketakwaan.
"Keutamaan Memasuki Bulan Dzulhijjah"
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
(الفجر:
١–٢)وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Artinya:
"Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh."
Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa
yang dimaksud sepuluh malam dalam ayat tersebut adalah sepuluh hari pertama
bulan Dzulhijjah.
Hadis Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَا
مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ
الْأَيَّامِ الْعَشْرِ
قَالُوا:
وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟
(رواه
البخاري) قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ
بِشَيْءٍ
Artinya:
"Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada hari itu
lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini." Para sahabat bertanya:
"Termasuk jihad di jalan Allah?" Nabi menjawab: "Termasuk jihad,
kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak
kembali sedikit pun."
Mengapa Dzulhijjah Sangat Istimewa?
Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang memiliki banyak
kemuliaan.
Di dalamnya terdapat
pelaksanaan ibadah haji, hari Arafah, ibadah kurban, hari raya Idul Adha, dan
sepuluh hari terbaik dalam setahun.
Bahkan sebagian
ulama menjelaskan bahwa siang hari sepuluh Dzulhijjah lebih utama daripada
hari-hari lainnya.
Maka orang yang cerdas adalah yang memanfaatkan kesempatan
emas ini.
Amalan yang Dianjurkan pada Awal Dzulhijjah
Mari kita hidupkan hari-hari mulia ini dengan:
1. Memperbanyak shalat sunnah
2. Memperbanyak membaca Al-Qur'an
3. Memperbanyak dzikir
Seperti membaca سُبْحَانَ اللَّهِ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ, وَاللَّهُ أَكْبَرُ
4. Bersedekah
5. Berpuasa sunnah
6. Memperbanyak istighfar dan doa
Kisah Hikmah
Dahulu para ulama salaf ketika
memasuki sepuluh hari pertama Dzulhijjah memperbanyak ibadah dengan
sungguh-sungguh.
Diriwayatkan bahwa Sa'id bin
Jubair رحمه الله apabila telah masuk sepuluh hari pertama
Dzulhijjah, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah sampai hampir-hampir tidak
mampu menambah lagi amalnya.
Beliau berkata:
"Janganlah kalian
padamkan pelita amal pada hari-hari yang penuh keberkahan ini."
Mari kita renungkan,
Sudahkah kita menyambut Dzulhijjah dengan semangat ibadah?
Ataukah kita justru sibuk dengan urusan dunia?
Sudahkah kita mempersiapkan amal terbaik?
Karena boleh jadi Dzulhijjah tahun ini menjadi Dzulhijjah
terakhir bagi kita.
Banyak kesempatan datang dalam hidup, tetapi tidak semua kesempatan kembali lagi.
Dzulhijjah adalah musim pahala.
Pedagang dunia memanfaatkan musim keuntungan.
Maka seorang mukmin juga harus memanfaatkan musim pahala
dari Allah.
Jangan sampai kita menyesal ketika kesempatan itu berlalu.
اَللَّهُمَّ
بَلِّغْنَا فَضْلَ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْمُبَارَكَةِ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ
وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Ya Allah, sampaikanlah kami pada keberkahan hari-hari
yang mulia ini, dan bantulah kami untuk berdzikir, bersyukur, dan beribadah
dengan baik kepada-Mu."
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang
memanfaatkan bulan Dzulhijjah dengan amal saleh dan menjadikan hidup kita penuh
keberkahan.
آمِيْن
يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong
-
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، ن...
-
Idul Adha: Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah Oleh: Abdul Rochim, S.H. Penyuluh Agama Islam KUA Winong Hari Raya I...
-
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِالل...






