Senin, 07 September 2026

Jangan Menuntut Pasangan Sempurna, Belajarlah Menjadi Pasangan yang Sempurna dalam Kebaikan

 Pernahkah kita merasa kecewa kepada pasangan karena ternyata ia tidak seperti yang kita bayangkan?

Sebelum menikah, mungkin kita membayangkan pasangan yang selalu romantis, sabar, pengertian, perhatian, rajin beribadah, pandai mengelola keuangan, selalu tersenyum, tidak pernah marah, dan selalu tahu apa yang kita inginkan.

Namun setelah akad terucap dan kehidupan bersama dimulai, kita baru menyadari:

Ternyata pasangan kita adalah manusia.

Ia bisa lelah.

Ia bisa lupa.

Ia bisa salah.

Ia bisa marah.

Ia punya kekurangan.

Dan yang lebih penting, kita pun ternyata sama.

Di sinilah perjalanan pernikahan yang sesungguhnya dimulai.

Pernikahan bukanlah pertemuan antara dua manusia yang sempurna. Pernikahan adalah perjalanan dua manusia yang sama-sama memiliki kekurangan, kemudian belajar saling menyempurnakan dalam kebaikan.

Maka, mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya:

“Mengapa pasangan saya tidak sempurna?”

Lalu menggantinya dengan pertanyaan:

“Sudahkah saya berusaha menjadi pasangan yang baik?”

 


Pernikahan Bukan Tentang Menemukan Manusia Tanpa Kekurangan

Ada sebuah kesalahan cara berpikir yang sering tidak kita sadari.

Kita berharap mendapatkan pasangan yang baik, tetapi terkadang lupa bahwa pasangan kita juga berharap mendapatkan pasangan yang baik.

Kita ingin pasangan sabar menghadapi kita.

Tetapi apakah kita sudah sabar menghadapi pasangan?

Kita ingin pasangan memahami kesibukan kita.

Tetapi apakah kita sudah berusaha memahami kesibukannya?

Kita ingin pasangan memaafkan kesalahan kita.

Tetapi apakah kita mudah memaafkan kesalahannya?

Kita ingin dihargai.

Tetapi apakah kita sudah cukup menghargai?

Kita ingin didengarkan.

Tetapi apakah kita sudah bersedia mendengarkan?

Di sinilah kita sering keliru.

Kita sibuk mencari kualitas terbaik dari pasangan, sementara lupa membangun kualitas terbaik dalam diri sendiri.

Padahal rumah tangga yang sehat tidak dibangun oleh dua orang yang sempurna.

Ia dibangun oleh dua orang yang mau belajar, mengalah, memaafkan, memperbaiki diri, dan bertumbuh bersama.

 

Allah Tidak Menjanjikan Pasangan Tanpa Kekurangan

Allah berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)

Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat dalam.

Tidak semua hal dalam pasangan akan selalu kita sukai.

Ada sifat pasangan yang mungkin berbeda dengan kita.

Ada kebiasaannya yang terkadang membuat kita kesal.

Ada cara berpikirnya yang tidak selalu sama dengan cara berpikir kita.

Ada kekurangannya yang baru kita sadari setelah bertahun-tahun hidup bersama.

Tetapi Islam mengajarkan kita untuk tidak buru-buru melihat satu kekurangan lalu melupakan begitu banyak kebaikan.

Jangan biarkan satu noda membuat kita lupa pada seluruh kebaikan yang telah diberikan pasangan.

 

Jangan Membandingkan Pasangan dengan Orang Lain

Salah satu racun paling berbahaya dalam rumah tangga adalah perbandingan.

“Suami orang lain kok romantis.”

“Istri orang lain kok lebih perhatian.”

“Lihat tetangga, ekonominya sudah mapan.”

“Suaminya selalu mengajak liburan.”

“Istrinya pintar mengurus rumah.”

Tanpa sadar, media sosial juga membuat kita semakin mudah membandingkan.

Kita melihat pasangan orang lain tersenyum dalam sebuah foto.

Kita melihat keluarga lain sedang berlibur.

Kita melihat hadiah ulang tahun yang diberikan seorang suami kepada istrinya.

Kita melihat keromantisan pasangan lain.

Kemudian kita menatap pasangan sendiri dan berkata dalam hati:

“Mengapa kamu tidak seperti dia?”

Padahal kita hanya melihat foto, bukan keseluruhan kehidupan mereka.

Kita melihat senyumnya, tetapi tidak melihat air matanya.

Kita melihat liburannya, tetapi tidak melihat cicilannya.

Kita melihat romantisnya, tetapi tidak mengetahui bagaimana mereka menyelesaikan konflik.

Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak mengetahui proses panjang yang mereka jalani.

Karena itu, jangan jadikan kehidupan orang lain sebagai standar untuk mengukur kebahagiaan rumah tangga kita.

Rumah tangga bukan kompetisi.

Tidak harus sama.

Tidak harus terlihat sempurna.

Yang penting adalah berkah, tenang, saling menjaga, dan sama-sama mendekat kepada Allah.

 

Pasangan Kita Bukan Proyek untuk Diubah Sesuai Keinginan

Ada pasangan yang menikah dengan harapan:


“Nanti setelah menikah, dia akan berubah.”

Padahal perubahan seseorang tidak bisa dipaksakan hanya karena kita menikah dengannya.

Kita bisa mengajak.

Kita bisa menasihati.

Kita bisa memberi teladan.

Kita bisa mendoakan.

Tetapi jangan merasa bahwa pasangan adalah proyek yang harus kita bentuk sesuai dengan seluruh keinginan kita.

Sebab pernikahan bukan tentang:

“Aku akan mengubahmu menjadi seperti yang kuinginkan.”

Tetapi:

“Mari kita saling membantu menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah.”

Ada perbedaan besar antara keduanya.

Yang pertama berpotensi melahirkan tuntutan.

Yang kedua melahirkan kerja sama.

 

Lalu, Apa Artinya Menjadi “Pasangan yang Sempurna”?

Tentu kita tidak mungkin menjadi manusia yang benar-benar sempurna.

Kesempurnaan manusia bukan berarti tidak pernah salah.

Kesempurnaan dalam konteks ini adalah kesungguhan untuk terus memperbaiki diri dalam kebaikan.

Suami yang baik bukan suami yang tidak pernah marah.

Tetapi suami yang belajar mengendalikan marah.

Istri yang baik bukan istri yang tidak pernah kecewa.

Tetapi istri yang belajar menyampaikan kekecewaan dengan cara yang baik.

Suami yang baik bukan yang selalu punya banyak uang.

Tetapi yang berusaha mencari nafkah dengan halal dan bertanggung jawab.

Istri yang baik bukan yang selalu bisa memenuhi semua keinginan suami.

Tetapi yang berusaha menjaga kehormatan, amanah, dan kebaikan rumah tangga.

Orang tua yang baik bukan yang tidak pernah salah kepada anak.

Tetapi yang mau mengakui kesalahan dan belajar menjadi lebih baik.

Kesempurnaan bukan berarti tanpa kesalahan.

Kesempurnaan dalam kebaikan adalah tidak berhenti belajar setelah melakukan kesalahan.

 

Rasulullah Mengajarkan Cara Melihat Kebaikan Pasangan

Rasulullah bersabda:

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu perangainya, ia akan menyukai perangainya yang lain.” (HR. Muslim)

Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan rumah tangga.

Tidak ada manusia yang hanya memiliki sifat baik.

Tidak ada pula manusia yang hanya memiliki sifat buruk.

Mungkin pasangan kita kurang romantis, tetapi ia bertanggung jawab.

Mungkin ia tidak pandai mengucapkan kata-kata manis, tetapi ia selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.

Mungkin ia tidak pandai mengungkapkan perasaan, tetapi diam-diam selalu mendoakan.

Mungkin pasangan kita memiliki kekurangan tertentu, tetapi ada begitu banyak kebaikan yang selama ini kita nikmati.

Maka sebelum mengeluh tentang apa yang tidak kita miliki, cobalah menghitung kembali apa yang selama ini Allah titipkan melalui pasangan kita.

 

Kadang yang Perlu Diperbaiki Bukan Pasangan, Tetapi Cara Pandang Kita

Ada kalanya masalah rumah tangga bukan karena pasangan terlalu buruk.

Bisa jadi karena ekspektasi kita terlalu tinggi.

Kita berharap pasangan selalu memahami tanpa kita menjelaskan.

Kita berharap pasangan tahu apa yang kita pikirkan.

Kita berharap pasangan selalu romantis.

Kita berharap pasangan tidak pernah melakukan kesalahan.

Padahal pasangan bukan pembaca pikiran.

Ia manusia biasa yang juga memiliki beban, pekerjaan, tekanan, dan masalah.

Maka jangan selalu bertanya:

“Mengapa dia tidak mengerti saya?”

Cobalah bertanya:

“Sudahkah saya menjelaskan dengan baik?”

Jangan selalu berkata:

“Dia tidak pernah berubah.”

Cobalah bertanya:

“Sudahkah saya memberi teladan?”

Jangan hanya berkata:

“Dia tidak pernah menghargai saya.”

Cobalah bertanya:

“Sudahkah saya menghargainya?”

Kadang perubahan rumah tangga tidak dimulai dari pasangan.

Perubahan dimulai dari orang yang bersedia lebih dahulu memperbaiki diri.

 

Pernikahan Adalah Tempat Belajar Bersabar

Kalau seseorang ingin menikah hanya untuk mendapatkan kebahagiaan, ia mungkin akan mudah kecewa.

Sebab pernikahan juga menghadirkan ujian.

Ada ujian ekonomi.

Ada ujian komunikasi.

Ada ujian keluarga besar.

Ada ujian pekerjaan.

Ada ujian kesehatan.

Ada ujian pengasuhan anak.

Ada ujian perbedaan karakter.

Dan semua itu membutuhkan kesabaran.

Allah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Maka ketika kita bersabar menghadapi pasangan dalam perkara yang baik, jangan merasa bahwa kesabaran itu sia-sia.

Bisa jadi satu kesabaran yang kita tahan hari ini menjadi sebab Allah menjaga keutuhan rumah tangga kita bertahun-tahun kemudian.

 

Jangan Menunggu Pasangan Berbuat Baik Lebih Dahulu

Ini yang sering menjadi persoalan.

Suami berkata:

“Kalau istri saya menghormati saya, saya akan menghormatinya.”

Istri berkata:

“Kalau suami saya perhatian, saya juga akan perhatian.”

Akhirnya keduanya menunggu.

Suami menunggu istri berubah.

Istri menunggu suami berubah.

Dan rumah tangga berjalan dalam lingkaran yang tidak pernah selesai.

Padahal kebaikan tidak harus menunggu dibalas.

Senyumlah lebih dahulu.

Ucapkan terima kasih lebih dahulu.

Minta maaf lebih dahulu.

Bertanya:

“Hari ini capek?”

lebih dahulu.

Memeluk pasangan setelah hari yang berat lebih dahulu.

Mengalah ketika keadaan membutuhkan lebih dahulu.

Bukan karena kita kalah.

Tetapi karena kita ingin rumah tangga menang.

Kadang yang dibutuhkan rumah tangga bukan siapa yang paling benar, tetapi siapa yang bersedia lebih dahulu menebar kebaikan.

 

Jangan Jadikan Kekurangan Pasangan sebagai Senjata

Kesalahan yang pernah dilakukan pasangan jangan terus-menerus digunakan sebagai amunisi setiap kali bertengkar.

“Kan dulu kamu pernah begini…”

“Dulu kamu juga pernah melakukan itu…”

“Makanya saya tidak percaya kamu…”

Kalau setiap kesalahan masa lalu terus diungkit, kapan rumah tangga akan memiliki ruang untuk sembuh?

Memaafkan bukan berarti menganggap kesalahan itu tidak pernah terjadi.

Memaafkan berarti kita memilih untuk tidak menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alat untuk terus menyakiti.

Jika pasangan telah benar-benar berusaha memperbaiki diri, berikan ruang baginya untuk tumbuh.

Sebab kita pun pasti ingin ketika melakukan kesalahan, diberikan kesempatan untuk menjadi lebih baik.

 

Rumah Tangga yang Sakinah Bukan Rumah Tangga Tanpa Konflik


Sering kali kita mengira rumah tangga sakinah adalah rumah tangga yang tidak pernah bertengkar.

Tidak selalu demikian.

Rumah tangga sakinah adalah rumah tangga yang ketika terjadi masalah, keduanya masih ingat bahwa mereka berada di pihak yang sama.

Bukan:

suami melawan istri.

Bukan:

istri melawan suami.

Tetapi:

suami dan istri bersama-sama menghadapi masalah.

Masalahnya adalah musuh.

Bukan pasangannya.

Kalimat sederhana ini bisa mengubah banyak hal.

Ketika pasangan melakukan kesalahan, jangan buru-buru berpikir:

“Kamu adalah masalah dalam hidupku.”

Tetapi cobalah:

“Ada masalah yang harus kita selesaikan bersama.”

Perbedaan kalimat mungkin sederhana.

Tetapi dampaknya luar biasa.

 

Ingat: Kita Menikah dengan Pasangan, Bukan dengan Versi Ideal dalam Pikiran Kita

Ada orang yang sebenarnya tidak kecewa kepada pasangannya.

Ia kecewa karena pasangannya tidak sesuai dengan versi ideal yang ada di kepalanya.

Ia membandingkan pasangan nyata dengan pasangan imajinasi.

Padahal pasangan imajinasi tidak pernah lelah.

Tidak pernah salah.

Tidak pernah lupa.

Tidak pernah marah.

Tidak pernah punya masalah.

Sementara pasangan kita adalah manusia nyata.

Ia pulang dalam keadaan lelah.

Ia terkadang salah bicara.

Ia terkadang lupa.

Ia memiliki luka masa lalu.

Ia memiliki tekanan hidup.

Ia sedang belajar.

Dan begitu pula kita.

Karena itu, belajar mencintai pasangan sebagaimana adanya, sambil tetap mengajaknya bertumbuh menjadi lebih baik.

Itulah cinta yang dewasa.

 

Mulailah dari Diri Sendiri

Jika hari ini rumah tangga terasa kurang hangat, jangan langsung bertanya:

“Apa yang harus dilakukan pasangan saya?”

Cobalah bertanya:

“Apa yang bisa saya lakukan?”

Jika komunikasi mulai dingin, mulailah membuka percakapan.

Jika jarang mengucapkan terima kasih, mulailah menghargai.

Jika terlalu sering mengkritik, mulailah memberi apresiasi.

Jika terlalu sibuk dengan pekerjaan, sisihkan waktu untuk keluarga.

Jika selama ini lebih sering menuntut, mulailah memberi.

Jika selama ini mudah marah, belajarlah menahan diri.

Jika selama ini sulit meminta maaf, belajarlah mengucapkan:

“Maaf, mungkin cara saya salah.”

Kalimat sederhana itu terkadang mampu menyelamatkan percakapan yang hampir berubah menjadi pertengkaran.

 

Karena Pernikahan Adalah Ibadah

Pada akhirnya, kita perlu kembali kepada tujuan besar pernikahan.

Pernikahan bukan hanya tentang memiliki seseorang untuk menemani makan, tidur, bepergian, atau berbagi cerita.

Pernikahan adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.

Kita ingin memiliki pasangan yang membantu kita menjadi lebih baik.

Yang mengingatkan ketika kita lupa.

Yang menenangkan ketika kita gelisah.

Yang menguatkan ketika kita lemah.

Yang menegur ketika kita salah.

Yang menemani dalam ketaatan.

Maka jangan hanya mencari pasangan yang bisa membuat kita bahagia.

Carilah dan jadilah pasangan yang bisa saling membawa menuju keberkahan.

Sebab pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar rumah tangga yang terlihat bahagia di mata manusia.

Kita menginginkan rumah tangga yang diridhai Allah.

 

Untuk Suami, Jadilah Suami yang Baik

Tidak perlu menunggu istri menjadi sempurna untuk menjadi suami yang baik.

Hormati dia.

Dengarkan ceritanya.

Hargai perjuangannya.

Jaga lisannya dari hinaan.

Jangan mempermalukannya.

Berikan nafkah dari jalan yang halal.

Bantu ketika ia kelelahan.

Dan jangan lupa mengatakan:

“Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup saya.”

Mungkin kalimat itu sederhana.

Tetapi bagi seorang istri, penghargaan sering kali jauh lebih berharga daripada seribu nasihat.

 

Untuk Istri, Jadilah Istri yang Baik

Tidak perlu menunggu suami sempurna untuk menjadi istri yang baik.

Hormati suami dalam perkara yang ma'ruf.

Jaga amanah.

Hargai perjuangannya.

Jangan bandingkan dirinya dengan laki-laki lain.

Jadilah tempat pulang yang menenangkan.

Jika ia sedang lemah, kuatkan.

Jika ia sedang gagal, jangan jadikan kegagalannya sebagai bahan untuk merendahkan.

Karena seorang suami mungkin bisa menghadapi kerasnya dunia di luar rumah, tetapi ia tetap membutuhkan rumah sebagai tempat menemukan ketenangan.

 

Dan untuk Kita Semua…

Mari berhenti mengejar pasangan yang sempurna.

Karena bisa jadi, pasangan terbaik bukanlah pasangan yang memenuhi seluruh daftar keinginan kita.

Pasangan terbaik adalah seseorang yang bersamanya kita belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Mungkin ia tidak sempurna.

Tetapi ia mau belajar.

Mungkin ia pernah salah.

Tetapi ia mau meminta maaf.

Mungkin ia memiliki banyak kekurangan.

Tetapi ia tidak berhenti memperbaiki diri.

Dan mungkin kita pun demikian.

Kita tidak sempurna.

Tetapi kita bisa saling menyempurnakan dalam kebaikan.

 

Sebuah Renungan untuk Pasangan

Malam ini, ketika rumah mulai sunyi dan pasangan berada di samping kita, cobalah berhenti sejenak.

Lihat wajahnya.

Ingat kembali hari ketika kita mengucapkan akad.

Ingat perjuangan yang sudah dilalui.

Ingat bagaimana ia pernah menemani kita ketika susah.

Ingat bagaimana ia pernah mendoakan kita.

Ingat bagaimana ia tetap bertahan ketika keadaan tidak mudah.

Kemudian tanyakan kepada diri sendiri:

“Apakah selama ini aku lebih banyak menuntut atau lebih banyak bersyukur?”

“Apakah aku lebih sering menghitung kekurangannya atau mengingat kebaikannya?”

“Apakah aku ingin dia berubah, sementara aku sendiri enggan berubah?”

Dan mungkin malam ini, tidak perlu ada ceramah panjang.

Cukup genggam tangannya.

Lalu katakan:

“Maaf kalau selama ini aku belum menjadi pasangan yang baik. Mari kita belajar menjadi lebih baik bersama-sama.”

Barangkali kalimat sederhana itu menjadi awal dari babak baru dalam rumah tangga.

 

Karena Cinta Bukan Tentang Kesempurnaan

Cinta yang dewasa tidak berkata:

“Aku mencintaimu karena kamu sempurna.”

Tetapi berkata:

“Aku tahu kamu memiliki kekurangan. Aku juga punya kekurangan. Mari kita saling membantu untuk menjadi lebih baik.”

Pernikahan bukan tentang dua manusia tanpa cela.

Pernikahan adalah tentang dua manusia yang bersedia saling menjaga ketika salah satu sedang lemah.

Tentang dua manusia yang belajar memaafkan.

Tentang dua manusia yang belajar menahan ego.

Tentang dua manusia yang saling menguatkan.

Dan tentang dua manusia yang berharap, kelak ketika perjalanan dunia ini selesai, mereka bisa kembali berkumpul dalam kehidupan yang lebih baik di sisi Allah.

Maka jangan terlalu sibuk mencari:

“Di mana pasangan yang sempurna?”

Lebih baik tanyakan:

“Sudahkah aku menjadi pasangan yang baik?”

Karena boleh jadi, kebahagiaan rumah tangga tidak dimulai ketika kita menemukan pasangan yang sempurna.

Kebahagiaan itu dimulai ketika kita berhenti menuntut kesempurnaan dan mulai belajar menghadirkan kebaikan.

Jangan menuntut pasangan sempurna.

Belajarlah menjadi pasangan yang sempurna dalam kebaikan.

Sebab rumah tangga yang indah bukan rumah tangga tanpa kekurangan.

Rumah tangga yang indah adalah rumah tangga yang setiap kekurangan dihadapi dengan kesabaran, setiap kesalahan disikapi dengan kasih sayang, dan setiap langkah diarahkan untuk semakin dekat kepada Allah.

 

Semoga Allah menjadikan setiap keluarga kita sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Semoga Allah melembutkan hati para suami dan istri.

Menguatkan mereka yang sedang diuji.

Menyatukan kembali hati yang mulai berjauhan.

Mengajarkan kita untuk lebih mudah memaafkan daripada menyalahkan.

Lebih mudah bersyukur daripada mengeluh.

Lebih senang memberi daripada menuntut.

Dan lebih sibuk memperbaiki diri daripada mencari kesalahan pasangan.

Karena pasangan kita bukan manusia sempurna.

Dan kita pun bukan manusia sempurna.

Tetapi bersama-sama, kita bisa menjadi pasangan yang lebih baik.

Bukan sempurna di hadapan manusia, tetapi berusaha menjadi pasangan yang baik di hadapan Allah.







Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam

KUA Kecamatan Winong

 

Selasa, 28 Juli 2026

Pelita di Tengah Malam : Kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang Tidak Pernah Berhenti Belajar

"Belajar bukan perlombaan"

 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sahabat yang dirahmati Allah...

Hari ini kita sering mendengar kalimat,

"Saya sudah lulus."

"Saya sudah tua."

"Saya sudah bekerja, tidak perlu belajar lagi."

Seolah-olah belajar memiliki garis akhir.

Padahal...

Tahukah Anda?


Ada seorang ulama besar yang rambutnya telah memutih, janggutnya memenuhi uban, bahkan telah menjadi guru bagi ribuan orang...

Masih membawa tinta dan pena untuk belajar.

Ketika seseorang bertanya,

"Wahai Imam, sampai kapan kamu akan terus belajar?"

Beliau menjawab dengan satu kalimat yang kemudian dikenang sepanjang sejarah.

"Bersama tinta hingga masuk ke liang kubur."

Beliau adalah...

Imam Ahmad bin Hanbal.

Apa rahasia semangat beliau?

Mari kita simak kisahnya.

 

Suasana Kota Bagdad mulai sunyi.

Sebagian orang telah terlelap.

Namun...

Di sebuah rumah sederhana...

Masih tampak cahaya lampu minyak yang menyala.

Di hadapan cahaya itu duduk seorang lelaki tua.

Tangannya memegang pena.

Di sekelilingnya terdapat lembaran-lembaran hadis.

Sesekali beliau menulis.

Sesekali membaca.

Sesekali ulangi hafalan.

Beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal.

Seorang ulama besar.

Guru bagi para imam.

Penghafal lebih dari sejuta hadis beserta sanadnya menurut para ahli sejarah.

Tetapi...

Beliau tidak pernah merasa cukup.

Suatu hari seseorang melihat dia membawa tinta dan alat tulis.

Orang itu merasa heran.

"Wahai Imam Ahmad..."

“Engkau telah menjadi imam besar umat.”

“Mengapa masih membawa tinta untuk belajar?”

Imam Ahmad tersenyum.

Kemudian dia menjawab dengan tenang.

"Aku akan terus membawa tinta sampai masuk kubur."

Masya Allah...

Kalimat itu sederhana.

Namun mengandung lautan hikmah.

Beliau tidak pernah menganggap dirinya telah selesai belajar.

Semakin tinggi ilmunya...

Semakin besar rasa hausnya terhadap ilmu.

Beliau memahami bahwa ilmu Allah tidak akan pernah habis.

 

Sahabat...

Inilah penyakit yang sering menyerang zaman kita.

Baru membaca satu buku...

Merasa paling tahu.

Baru mendapat satu gelar...

Merasa paling pintar.

Baru viral satu video...

Merasa layak menggurui semua orang.

Padahal...

Semakin berilmu seseorang...

Semakin dia menyadari betapa sedikit yang dia ketahui.

Allah berfirman:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

"Tidaklah kalian diberi ilmu melainkan hanya sedikit." (QS. Al-Isra': 85)

Lihatlah Imam Ahmad.

Beliau telah menjadi rujukan dunia Islam.

Tetapi tetap duduk sebagai murid.

Karena beliau sadar...

Kesombongan adalah pintu tertutupnya ilmu.

Sedangkan tawadhu' adalah pintu datangnya keberkahan.

Hari ini...

Kita hidup di zaman internet.

Informasi memang mudah didapat.

Tetapi...

Ilmu yang benar tetap membutuhkan guru.

 

Jangan sampai kita merasa cukup hanya karena mesin pencari mampu menjawab pertanyaan.

Sebab...

Informasi bisa dicari dalam hitungan detik.

Tetapi hikmah lahir dari proses belajar seumur hidup.

 

Mari kita renungkan.

Sudah berapa buku yang kita baca tahun ini?

Sudah berapa majelis ilmu yang kami hadiri?

Sudah berapa kali kita membuka Al-Qur'an hanya untuk belajar memahami maknanya?

Jangan sampai usia terus bertambah...

Tetapi ilmu dan amal justru berhenti berkembang.

Imam Ahmad mengajarkan bahwa usia bukanlah alasan untuk berhenti belajar.

Karena selama nafas masih berhembus...

Allah masih membuka pintu ilmu.

 

Sahabat...

Tahun pelajaran baru bukan hanya milik anak sekolah.

Sungguh...

Setiap hari adalah tahun pelajaran baru bagi setiap mukmin.

Karena setiap hari Allah memberi kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Mari kita menjadi manusia yang tidak pernah berhenti belajar.

Belajar Al-Qur'an.

Belajar akhlak.

Belajar memperbaiki diri.

Belajar menjadi orang tua yang lebih baik.

Belajar menjadi guru yang lebih baik.

Belajar menjadi hamba Allah yang lebih dekat kepada-Nya.

Semoga Allah menjadikan hati kita selalu haus akan ilmu yang bermanfaat.

Memberikan kepada kita keikhlasan dalam belajar.

Dan mengumpulkan kita bersama para ulama di surga-Nya.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

 

"Teruslah membawa tinta hingga masuk ke liang kubur."

—Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

 

Allah Ta'ala berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan berkata: Ya Tuhanku, berikanlah padaku ilmu.” (QS. Thaha: 114)

Ayat ini sangat istimewa, karena merupakan satu-satunya permohonan agar ditambah sesuatu yang secara khusus Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad , yaitu tambahan ilmu.

 

Sahabat yang dirahmati Allah...

Jika hari ini kita merasa belum pandai, jangan berkecil hati. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita sampai, tetapi apakah kita terus melangkah. Jadikan semangat Imam Ahmad bin Hanbal sebagai inspirasi: belajar bukan sekedar untuk memperoleh gelar, melainkan untuk semakin mengenal Allah dan memberi manfaat kepada sesama.

Saya, Abdul Rochim, SH, Penyuluh Agama Islam KUA Winong, mengajak kita semua untuk menjadikan budaya belajar sebagai bagian dari ibadah. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang rendah hati, dan kekuatan untuk terus belajar hingga akhir hayat.

 

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Rabu, 22 Juli 2026

Kemerdekaan Tidak Hanya Direbut,Tetapi Harus Dirawat

 Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah...

Setiap kali bulan Agustus datang...

Merah putih kembali berkibar.

Lagu-lagu perjuangan kembali terdengar.

Anak-anak mengikuti lomba.

Jalan-jalan dekorasi umbul-umbul.

Semuanya mengingatkan kita...

Bahwa negeri ini pernah diperjuangkan dengan darah, air mata, dan doa.

Namun...

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri...

Apakah kemerdekaan hanya untuk dikenang?

Ataukah...

Kemerdekaan harus terus kita rawat?

 

Kemerdekaan bangsa ini bukan hadiah. Ia lahir dari pengorbanan. Ada ulama yang gugur. Ada santri yang berjuang. Ada rakyat kecil yang rela kehilangan keluarga demi berdirinya negeri ini.

Karena itu...

Tugas generasi sekarang bukan lagi merebut kemerdekaan.

Tetapi...

 

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu umat sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan suatu bangsa dimulai dari perubahan setiap individu.

Kalau kita ingin Indonesia semakin baik...

Maka dimulai dari diri sendiri.

 

Kalau dahulu musuh membawa senjata...

Hari ini musuh datang dengan wajah yang berbeda.

Ia bernama...

Kemalasan, Korupsi, Hoaks, Fitnah, Perpecahan, Narkoba, Pornografi, Kebencian di media sosial.

Musuh-musuh ini tidak terdengar dentuman senjatanya.

Tetapi perlahan...

Menghancurkan masa depan bangsa.

 

Merawat kemerdekaan tidak selalu harus di medan perang.

Seorang guru...

Merawat kemerdekaan dengan mendidik muridnya.

Petani...

Merawat kemerdekaan dengan menanam pangan.

Dokter...

Merawat kemerdekaan dengan menyembuhkan pasien. 

Penyuluh agama...

Merawat kemerdekaan dengan menyebarkan ilmu dan akhlak.

Orang tua...

Merawat kemerdekaan dengan mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang beriman.

Bahkan...

Seorang pelajar yang belajar sungguh-sungguh...

Sedang menjaga masa depan Indonesia.


 

Rasulullah ketika meninggalkan Kota Makkah pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahiran.

Hal ini menunjukkan bahwa mencintai negeri adalah fitrah manusia.

Namun...

Cinta tanah air bukan sekedar slogan.

Tetapi diwujudkan dengan menjaga persatuan, Menghormati perbedaan, Tidak merusak fasilitas umum, Tidak mengambil hak orang lain.

Karena... Bangsa yang kuat dibangun oleh masyarakat yang berakhlak.

 

Saudara-saudaraku...

Ada orang yang hidup di negeri merdeka...

Tetapi masih menjadi budak hawa nafsunya, Budak keserakahan, Budak Kemalasan, Budak media sosial.

Padahal...

Kemerdekaan sejati adalah ketika hati kita merdeka untuk taat kepada Allah.

Merdeka dari dosa, Merdeka dari tahbisan, Merdeka dari iri hati, Merdeka dari sifat zalim.

 

Mari jadikan bulan Agustus...

Bukan hanya ramai dengan lomba.

Tetapi juga ramai dengan introspeksi.

Mari bertanya kepada diri kita...

Apa yang sudah saya lakukan untuk negeri ini?

Apa manfaat yang sudah saya berikan kepada masyarakat?

Apakah saya sudah menjadi bagian dari solusi...

Atau justru menjadi bagian dari masalah?

Semoga Allah SWT menjaga Indonesia.

Menjadikan negeri ini baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr.

Melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, cinta agama, cinta bangsa, dan siap menjaga kemerdekaan dengan karya terbaik.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka Jiwanya. Maju Bangsanya. Mulia Akhlaknya.


Pesan Hikmah

“Kemerdekaan diwariskan oleh para pahlawan. Menjaganya adalah amanah bagi setiap generasi. Mari kita isi kemerdekaan dengan iman, ilmu, akhlak, dan karya yang bermanfaat.”

 

 

 

Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Tetap Teguh di Tengah Ketidakpastian: Aqidah yang Kokoh, Akhlak yang Mulia

 Assalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāhi Rabbil 'ālamīn. Segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta'ālā yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita untuk kembali berkumpul dalam majelis ilmu, meskipun melalui media podcast.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad , keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Saudaraku yang dirahmati Allah...

Beberapa waktu terakhir, banyak di antara kita merasakan kegelisahan. Harga kebutuhan pokok berubah, peluang usaha naik turun, lapangan pekerjaan menjadi tantangan, dan berbagai kebijakan yang terus berkembang membuat sebagian orang bertanya-tanya tentang masa depan.

Dalam keadaan seperti ini, seorang mukmin perlu memiliki pegangan yang kokoh. Pegangan itu bukan sekadar kemampuan membaca situasi, tetapi aqidah yang benar dan akhlak yang mulia. Itulah yang akan kita bahas hari ini.

Dunia Memang Tempat Ujian 

Saudaraku...

Allah tidak pernah menjanjikan bahwa kehidupan dunia akan selalu mudah.

Justru Allah mengingatkan bahwa dunia adalah tempat ujian.

Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)

Perhatikan ayat ini.

Allah tidak mengatakan "jika" ujian datang.

Tetapi Allah mengatakan "Kami pasti akan menguji kalian."

Artinya, ujian adalah bagian dari kehidupan setiap manusia.

Yang membedakan bukan siapa yang diuji.

Tetapi bagaimana seseorang menghadapi ujian itu.

 

Aqidah Mengajarkan Tawakal, Bukan Putus Asa

 SPORTIFY LENTERA
Seorang mukmin yakin bahwa Allah adalah Ar-Razzāq, Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki.

Allah berfirman:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

"Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya." (QS. Hud: 6)

Ini bukan berarti kita berpangku tangan.

Nabi mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar.

Beliau bersabda:

"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang."

(HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dinilai sahih oleh sebagian ulama)

Perhatikan, burung tidak menunggu makanan datang ke sarangnya. Ia terbang, berusaha, lalu bertawakal. Demikian pula seorang mukmin.

 

Jangan Mudah Terprovokasi 

Di masa yang penuh informasi seperti sekarang, kita mudah menerima berita yang belum tentu benar.

Allah SWT mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)

Akhlak seorang muslim adalah menjaga lisan dan jemarinya. Jangan menyebarkan kabar yang belum jelas. Jangan menambah keresahan masyarakat dengan informasi yang tidak terverifikasi.

 

Sabar Bukan Berarti Pasrah 

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

"الصبر بمنزلة الرأس من الجسد"

"Kedudukan sabar terhadap iman seperti kepala terhadap tubuh." ('Uddatush Shabirin)

Sabar memiliki tiga bentuk:

1.     Sabar dalam menaati Allah.

2.     Sabar meninggalkan maksiat.

3.     Sabar menghadapi takdir yang tidak menyenangkan.

Maka ketika ekonomi sedang sulit, jangan tinggalkan shalat.

Ketika usaha menurun, jangan mencari jalan yang haram.

Ketika keadaan belum sesuai harapan, jangan putus asa dari rahmat Allah.


Menjadi Penebar Optimisme

Rasulullah adalah teladan dalam menebarkan harapan.

Saat Perang Khandaq, kaum muslimin berada dalam keadaan sulit. Namun Rasulullah tetap menanamkan optimisme dan mengingatkan bahwa pertolongan Allah pasti datang.

Allah berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh: 5–6)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan "setelah kesulitan", tetapi "bersama kesulitan". Ini memberi harapan bahwa di tengah ujian pun Allah menghadirkan jalan keluar.

Ikhtiar yang Diberkahi 

Dalam menghadapi kondisi yang tidak menentu, mari lakukan ikhtiar yang diridhai Allah:

  • Perbanyak doa dan istighfar.
  • Jaga shalat lima waktu dan perbanyak shalat sunnah.
  • Tingkatkan keterampilan dan etos kerja.
  • Hindari utang yang tidak perlu.
  • Perkuat silaturahmi dan gotong royong.
  • Sisihkan sebagian rezeki untuk sedekah, meskipun sedikit.

Rasulullah bersabda:

"مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ"

"Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim)

 

Saudaraku...

Keadaan boleh berubah.

Ekonomi bisa naik dan turun.

Situasi sosial dapat mengalami pasang surut.

Namun jangan biarkan iman kita ikut goyah.

Peganglah aqidah dengan kuat.

Hiasi diri dengan akhlak yang mulia.

Teruslah berikhtiar, bersabar, bertawakal, dan berdoa.

Semoga Allah menjaga negeri kita, memberikan keberkahan kepada para pemimpinnya agar mampu menunaikan amanah dengan adil, melapangkan rezeki masyarakat, menguatkan persatuan, serta menjadikan kita hamba-hamba yang tetap teguh dalam iman di setiap keadaan.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

"Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah pendirian kami..."
(QS. Al-Baqarah: 250)

Aamiin yā Rabbal 'ālamīn.

Wassalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.



Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati




Kamis, 18 Juni 2026

Perubahan Besar Selalu Berawal dari Hati yang Tulus

Tahun Baru Hijriah, Saatnya Memperbaiki Niat

Setiap datangnya Tahun Baru Hijriah, kaum muslimin diingatkan kembali pada peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah.

Namun hijrah bukan sekadar perpindahan tempat.

Hijrah adalah perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Hijrah adalah perubahan dari yang buruk menjadi baik, dari yang lalai menjadi sadar, dari yang jauh menjadi dekat kepada Allah SWT.

Dan semua perubahan besar itu selalu dimulai dari satu hal yang sederhana namun sangat menentukan, yaitu niat.


Karena tanpa niat yang benar, langkah yang besar sekalipun bisa kehilangan nilainya di sisi Allah.

Niat Adalah Pondasi Segala Amal

Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini merupakan salah satu hadis paling agung dalam Islam.

Para ulama bahkan menyebutnya sebagai seperempat ajaran agama Islam karena hampir seluruh amal bergantung pada niat.

Orang yang rajin beribadah tetapi mencari pujian manusia akan berbeda nilainya dengan orang yang beribadah karena mengharap ridha Allah.

Begitu pula seseorang yang ingin berhijrah. Jika niatnya hanya mengikuti tren, maka semangatnya akan mudah pudar. Namun jika niatnya karena Allah, maka ia akan tetap istiqamah meskipun menghadapi berbagai ujian.

Makna Hijrah yang Sesungguhnya

Banyak orang mengira hijrah hanya identik dengan perubahan penampilan.

Padahal makna hijrah jauh lebih luas daripada itu.

Hijrah adalah proses memperbaiki diri secara menyeluruh.

Rasulullah bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. Bukhari)

Artinya, siapa pun yang meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, maka ia sedang berhijrah.

Siapa pun yang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, maka ia sedang berhijrah.

Siapa pun yang memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia, maka ia sedang menjalani perjalanan hijrah.

Hijrah Dimulai Dari Niat Untuk...

1. Meninggalkan Maksiat dan Kebiasaan Buruk

Setiap manusia memiliki kekurangan dan dosa.

Hijrah dimulai ketika seseorang bertekad meninggalkan kebiasaan yang tidak diridhai Allah.

Mulai dari menjaga lisan, menjaga pandangan, meninggalkan ghibah, fitnah, serta berbagai perbuatan yang merusak hati.

2. Memperbaiki Diri dan Mendekat Kepada Allah

Hijrah bukan hanya meninggalkan yang buruk.

Tetapi juga memperbanyak amal kebaikan.

Memperbaiki kualitas shalat.

Memperbanyak membaca Al-Qur'an.

Memperbanyak dzikir dan doa.

Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

3. Menebar Kebaikan dan Manfaat

Seorang muslim yang berhijrah akan berusaha menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Bukan hanya memikirkan dirinya sendiri.

Tetapi juga peduli terhadap keluarga, tetangga, masyarakat, dan umat.

Karena Rasulullah bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)

4. Menjaga Hati, Lisan dan Perbuatan

Hijrah sejati tidak hanya terlihat dari luar.

Tetapi juga tampak dari kebersihan hati.

Menjauhi iri, dengki, sombong dan prasangka buruk.

Mengendalikan ucapan agar tidak menyakiti orang lain.

Serta menjaga perilaku agar selalu mencerminkan akhlak mulia.

Perubahan Besar Berawal dari Langkah Kecil

Banyak orang ingin langsung berubah secara drastis.

Padahal perubahan yang bertahan lama biasanya dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara istiqamah.

Mulailah dari:

Shalat tepat waktu

Membaca Al-Qur'an beberapa ayat setiap hari

Bersedekah meskipun sedikit

Menjaga ucapan

Memperbanyak istighfar

Sedikit demi sedikit, Allah akan membimbing kita menuju perubahan yang lebih besar.

Tahun Baru Hijriah Adalah Momentum Memulai

Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka.

Tetapi momentum untuk memperbaharui niat.

Membuka lembaran baru kehidupan.

Memperbaiki kesalahan masa lalu.

Dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik.  Allah SWT berfirman:

 وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

 "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut: 69)

 

Hijrah bukan perjalanan satu hari.

 Hijrah adalah perjalanan seumur hidup.

 Tidak ada manusia yang langsung sempurna.

 Tetapi setiap muslim diperintahkan untuk terus memperbaiki diri.

 Mulailah hari ini.

 Mulailah dari niat yang tulus karena Allah.

 Karena perubahan besar selalu berawal dari niat yang kecil, namun ikhlas.

"Hijrah dimulai dari niat. Niat yang benar akan melahirkan langkah yang benar, dan langkah yang benar akan mengantarkan kepada ridha Allah."

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

 

📘 Facebook : mazkiemochiem

📷 Instagram : @mazkiemochiem

🎵 TikTok : @mazkiemochiem

▶️ YouTube : Lengera 3429

Jangan Menuntut Pasangan Sempurna, Belajarlah Menjadi Pasangan yang Sempurna dalam Kebaikan

 Pernahkah kita merasa kecewa kepada pasangan karena ternyata ia tidak seperti yang kita bayangkan? Sebelum menikah, mungkin kita membayan...