Sabtu, 06 Juni 2026

Renungan Pasca Idul Adha: Apakah Kita Sudah Berkurban untuk Allah?

 السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين


Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Hari-hari Idul Adha telah berlalu. Kumandang takbir yang menggema di masjid dan mushala mulai mereda. Hewan-hewan kurban telah disembelih, daging telah dibagikan, dan sebagian besar dari kita telah kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Namun pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah:

Apakah Idul Adha hanya meninggalkan kenangan, atau meninggalkan perubahan dalam kehidupan kita?

Karena sesungguhnya, nilai terbesar dari Idul Adha bukan terletak pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan pada sejauh mana hati kita semakin dekat kepada Allah SWT.

Allah berfirman:

﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ﴾

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak membutuhkan daging ataupun darah kurban. Yang Allah lihat adalah keikhlasan, ketaatan, dan ketakwaan yang tumbuh dalam diri seorang hamba.

 Belajar dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Saudaraku yang dimuliakan Allah,

Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.

Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya yang sangat dicintainya, beliau tidak membantah. Beliau tidak menunda. Beliau tidak mencari alasan.

Sebaliknya, beliau tunduk dan patuh kepada perintah Allah.

Allah mengabadikan dialog yang mengharukan itu:

﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu." Ismail menjawab, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102)

Inilah pelajaran terbesar Idul Adha: ketaatan di atas kepentingan pribadi, cinta kepada Allah di atas segala-galanya.

 Kurban yang Sesungguhnya

Jamaah yang berbahagia,

Tidak semua orang mampu berkurban dengan hewan setiap tahun. Namun setiap muslim sesungguhnya mampu berkurban dalam bentuk yang lain.

Setelah Idul Adha, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

  • Sudahkah kita mengurbankan ego dan kesombongan?
  • Sudahkah kita mengurbankan sifat malas dalam beribadah?
  • Sudahkah kita mengurbankan amarah yang sering merusak hubungan?
  • Sudahkah kita mengurbankan kecintaan berlebihan terhadap dunia?

Karena terkadang yang paling sulit dikorbankan bukan kambing atau sapi, tetapi hawa nafsu yang bercokol di dalam diri.

Allah berfirman:

﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ﴾

"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Nazi'at: 40-41)

Menjaga Semangat Berbagi

Salah satu hikmah Idul Adha adalah tumbuhnya kepedulian sosial.

Saat hari raya, kita melihat senyum orang-orang yang menerima daging kurban. Kita menyaksikan kebahagiaan saudara-saudara kita yang mungkin jarang menikmati makanan bergizi.

Maka jangan biarkan semangat berbagi itu berhenti setelah Idul Adha.

Rasulullah bersabda:

«أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»

"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ath-Thabrani)

Jadilah muslim yang kehadirannya membawa manfaat, bukan hanya pada bulan tertentu, tetapi sepanjang waktu.

 Refleksi untuk Era Digital

Saudara-saudaraku,

Di era media sosial saat ini, sering kali kita sibuk menampilkan citra diri yang baik di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.

Kita mudah mengunggah foto kurban, tetapi belum tentu mudah menjaga keikhlasan.

Kita mudah membagikan ucapan Idul Adha, tetapi belum tentu mudah mengamalkan nilai-nilainya.

Karena itu, pasca Idul Adha mari kita perbarui niat:

  • Lebih rajin shalat berjamaah.
  • Lebih dekat dengan Al-Qur'an.
  • Lebih santun dalam bermedia sosial.
  • Lebih peduli kepada sesama.
  • Lebih ikhlas dalam beramal.

 Saudaraku yang dirahmati Allah,

Idul Adha telah mengajarkan kepada kita tentang keikhlasan Nabi Ibrahim, kesabaran Nabi Ismail, dan ketaatan yang sempurna kepada Allah SWT.

Jangan biarkan semangat itu berhenti ketika hari raya berakhir.

Mari jadikan hari-hari setelah Idul Adha sebagai momentum untuk menjadi hamba yang lebih bertakwa, lebih ikhlas, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, menerima kurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan.

اللهم تقبل منا إنك أنت السميع العليم، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين يا رب العالمين

والله أعلم بالصواب

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Selasa, 26 Mei 2026

Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah

 Idul Adha: Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah

Oleh: Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong

 

Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, bukan hanya tentang hewan kurban yang disembelih, bukan pula sekadar berkumpul bersama keluarga dan menikmati hidangan istimewa. Di balik suasana takbir yang menggema dan kebersamaan yang terasa hangat, tersimpan pelajaran yang sangat besar tentang keikhlasan, ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian kepada sesama.

Idul Adha mengingatkan umat Islam kepada kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS, kisah yang hingga hari ini tetap menjadi pelajaran sepanjang zaman.

 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Artinya:

"Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu. Dia (Ismail) menjawab: Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Bayangkan, Nabi Ibrahim yang bertahun-tahun menanti kehadiran seorang anak, justru diperintahkan
untuk mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya.

Namun beliau mengajarkan satu hal penting: ketaatan kepada Allah harus berada di atas segala-galanya.

Sebagian orang berpikir bahwa kurban hanya dilakukan ketika menyembelih kambing atau sapi. Padahal makna kurban jauh lebih luas dari itu.

Setiap hari sesungguhnya kita sedang belajar berkurban:

  • berkurban waktu untuk keluarga,
  • berkurban tenaga untuk kebaikan,
  • berkurban harta untuk membantu sesama,
  • berkurban ego demi menjaga persaudaraan,
  • bahkan berkurban keinginan diri demi ketaatan kepada Allah.

Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
(الحج: ٣٧)

Artinya:

"Daging dan darah kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian."

 Di era sekarang, manusia sering diuji bukan dengan kehilangan sesuatu, tetapi dengan kecintaan berlebihan terhadap dunia:

  • sibuk mengejar pekerjaan,
  • sibuk mengejar jabatan,
  • sibuk mengejar popularitas,
  • sibuk dengan media sosial,
  • hingga terkadang lupa pada keluarga dan ibadah.

Idul Adha hadir untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar mengejar dunia, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat hubungan dengan sesama manusia.

 

Mari jadikan Idul Adha bukan hanya acara tahunan, tetapi sebagai momentum untuk memperbaiki diri:

memperkuat keikhlasan
memperbanyak rasa syukur
mempererat silaturahmi
meningkatkan kepedulian sosial
memperkuat hubungan dengan Allah

Karena orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki harta paling banyak, tetapi yang memiliki hati yang penuh syukur dan kepedulian.

 Semoga Hari Raya Idul Adha tidak hanya menghadirkan kebahagiaan sesaat, tetapi juga menghadirkan perubahan dalam diri kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih ikhlas, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

"Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan amal ibadah kalian."

Mohon maaf lahir dan batin.

Minggu, 24 Mei 2026

Hari Tarwiyah : Menyiapkan Hati Menuju Ketaatan

 

 السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أَمَّا بَعْدُ

Pernahkah Kita Memikirkan Ini?

Saat akan bepergian jauh, kita menyiapkan banyak hal:

pakaian
uang saku
makanan
kendaraan
bahkan daftar barang agar tidak ada yang tertinggal

Namun ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan:

Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk perjalanan menuju Allah?

Di bulan Dzulhijjah, umat Islam mengenal Hari Tarwiyah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum Hari Arafah. Di balik hari ini tersimpan pelajaran yang sangat dalam tentang persiapan, bekal, dan ketakwaan.

 

Apa Itu Hari Tarwiyah?

Secara bahasa, kata Tarwiyah berasal dari kata:

رَوَى – يَرْوِي

yang bermakna membawa persediaan air atau mempersiapkan bekal.

Pada masa dahulu, para jamaah haji menyiapkan air sebelum menuju Mina dan Arafah.


Namun jika direnungkan lebih dalam, Hari Tarwiyah bukan sekadar tentang persiapan fisik, melainkan juga pengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan bekal terbaik.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ (البقرة: ١٩٧

Artinya:

"Berbekallah kalian karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan."

Manusia Sering Sibuk Menyiapkan yang Dekat, Tetapi Lupa dengan yang Jauh

Realitas hari ini menarik untuk diperhatikan.

Kita menyiapkan:

  • gawai terbaru
  • pekerjaan
  • rumah
  • tabungan
  • kendaraan

Tetapi sering lupa menyiapkan:

  • shalat yang khusyuk
  • bacaan Al-Qur'an
  • amal saleh
  • hati yang bersih
  • taubat dan istighfar

Padahal perjalanan dunia hanya sementara, sedangkan perjalanan akhirat tidak ada batas akhirnya.

 

Hari Tarwiyah dan Kehidupan Kita Hari Ini

Banyak orang memiliki jadwal yang penuh.

Bangun pagi, bekerja, rapat, membuka media sosial, mengejar target, lalu kembali tidur.

Hari berganti begitu cepat.

Kadang tanpa disadari, kita sibuk memperbarui status media sosial tetapi lupa memperbarui hubungan dengan Allah.


Kita sibuk mengisi baterai tele
pon genggam hingga penuh, tetapi membiarkan hati kosong dari dzikir.

Padahal hati juga membutuhkan "isi ulang".


Isi ulang hati dilakukan dengan:

  • memperbanyak istighfar
  • membaca Al-Qur'an
  • berdzikir
  • memperbaiki niat
  • memperbanyak amal saleh


Pesan Hikmah Hari Ini

Hari Tarwiyah mengajarkan bahwa persiapan bukan hanya urusan dunia, tetapi juga urusan akhirat.

Jangan hanya menyiapkan hidup untuk esok hari.

Siapkan juga kehidupan setelah hari ini.

Karena pada akhirnya bukan jabatan, harta, atau popularitas yang menemani kita, tetapi amal yang pernah kita lakukan.

 

Muhasabah Diri

Coba tanyakan pada diri sendiri:

  • Sudahkah shalat kita semakin baik?
  • Sudahkah kita memperbanyak istighfar?
  • Sudahkah kita menyiapkan amal jariyah?
  • Sudahkah hati kita dekat dengan Allah?

Karena bekal terbaik bukanlah apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita bawa menuju akhirat.

 "Jangan hanya mempersiapkan perjalanan dunia yang beberapa jam, tetapi persiapkan juga perjalanan menuju Allah yang berlangsung selamanya."

 وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ


Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Senin, 18 Mei 2026

KEUTAMAAN MEMASUKI BULAN DZULHIJJAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga pada hari ini kita masih dapat berkumpul dalam majelis ilmu yang insyaAllah penuh keberkahan.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad , kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena sebaik-baik bekal kehidupan adalah ketakwaan.

"Keutamaan Memasuki Bulan Dzulhijjah"

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

(الفجر: ١–٢)وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Artinya:

"Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh."

Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud sepuluh malam dalam ayat tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Hadis Nabi

Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ

قَالُوا: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟

(رواه البخاري) قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Artinya:

"Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada hari itu lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini." Para sahabat bertanya: "Termasuk jihad di jalan Allah?" Nabi menjawab: "Termasuk jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun."

Mengapa Dzulhijjah Sangat Istimewa?

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang memiliki banyak kemuliaan.

Di dalamnya terdapat pelaksanaan ibadah haji, hari Arafah, ibadah kurban, hari raya Idul Adha, dan sepuluh hari terbaik dalam setahun.

Bahkan sebagian ulama menjelaskan bahwa siang hari sepuluh Dzulhijjah lebih utama daripada hari-hari lainnya.

Maka orang yang cerdas adalah yang memanfaatkan kesempatan emas ini.

Amalan yang Dianjurkan pada Awal Dzulhijjah

Mari kita hidupkan hari-hari mulia ini dengan:

1. Memperbanyak shalat sunnah

2. Memperbanyak membaca Al-Qur'an

3. Memperbanyak dzikir

Seperti membaca  سُبْحَانَ اللَّهِ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ, وَاللَّهُ أَكْبَرُ

4. Bersedekah

5. Berpuasa sunnah

6. Memperbanyak istighfar dan doa

 

Kisah Hikmah

Dahulu para ulama salaf ketika memasuki sepuluh hari pertama Dzulhijjah memperbanyak ibadah dengan sungguh-sungguh.

Diriwayatkan bahwa Sa'id bin Jubair رحمه الله apabila telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah sampai hampir-hampir tidak mampu menambah lagi amalnya.

Beliau berkata:

"Janganlah kalian padamkan pelita amal pada hari-hari yang penuh keberkahan ini."

 

Mari kita renungkan,

Sudahkah kita menyambut Dzulhijjah dengan semangat ibadah?

Ataukah kita justru sibuk dengan urusan dunia?

Sudahkah kita mempersiapkan amal terbaik?

Karena boleh jadi Dzulhijjah tahun ini menjadi Dzulhijjah terakhir bagi kita.

 

Banyak kesempatan datang dalam hidup, tetapi tidak semua kesempatan kembali lagi.

Dzulhijjah adalah musim pahala.

Pedagang dunia memanfaatkan musim keuntungan.

 

Maka seorang mukmin juga harus memanfaatkan musim pahala dari Allah.

Jangan sampai kita menyesal ketika kesempatan itu berlalu.

اَللَّهُمَّ بَلِّغْنَا فَضْلَ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْمُبَارَكَةِ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Ya Allah, sampaikanlah kami pada keberkahan hari-hari yang mulia ini, dan bantulah kami untuk berdzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik kepada-Mu."

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang memanfaatkan bulan Dzulhijjah dengan amal saleh dan menjadikan hidup kita penuh keberkahan.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Sabtu, 16 Mei 2026

Sedekah Pembuka Keberkahan : Memaknai Tradisi Sedekah Bumi dengan Nilai Syukur dan Kepedulian Sosial

 

Sedekah Pembuka Keberkahan

Memaknai Tradisi Sedekah Bumi dengan Nilai Syukur dan Kepedulian Sosial

 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ

 

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena tidak ada bekal terbaik dalam kehidupan ini selain ketakwaan.

Di tengah masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan, saat ini banyak berlangsung tradisi sedekah bumi. Kegiatan ini biasanya diisi dengan doa bersama, berbagi makanan, santunan, pengajian, dan ungkapan rasa syukur atas hasil bumi serta nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Sebagai umat Islam, tradisi yang baik hendaknya diarahkan menjadi sarana memperkuat syukur kepada Allah, mempererat persaudaraan, memperbanyak sedekah, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Karena hakikat keberkahan bumi bukan berasal dari ritual adat semata, tetapi dari ketaatan, doa, dan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

(إبراهيم: ٧)  لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Artinya:

"Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian."

Dan Allah juga berfirman:

(البقرة: ٢٦١)  مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ

Artinya:

"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai."

Rasulullah bersabda:

(رواه مسلم)  مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Artinya:

"Sedekah tidak akan mengurangi harta."

Hadis ini mengajarkan bahwa berbagi kepada sesama justru membuka pintu keberkahan hidup.

Sedekah Bumi dalam Nilai Islam

Tradisi sedekah bumi akan menjadi baik apabila diisi dengan doa kepada Allah, pengajian, sedekah kepada fakir miskin, santunan anak yatim, mempererat silaturahmi, dan ungkapan rasa syukur atas nikmat hasil panen serta rezeki dari Allah.

Karena pada hakikatnya bumi adalah ciptaan Allah, hasil panen adalah pemberian Allah, hujan turun atas izin Allah, dan seluruh rezeki berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka rasa syukur itu harus dikembalikan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya.

Sedekah sebagai Bentuk Syukur

Sering kali manusia menikmati hasil panen, usaha, dan kekayaan, tetapi lupa berbagi kepada sesama.

Padahal keberkahan rezeki akan semakin bertambah ketika digunakan untuk membantu tetangga, memberi makan fakir miskin, membantu pembangunan masjid, mendukung pendidikan anak yatim, dan kegiatan sosial keagamaan.


Inilah makna sedekah yang sesungguhnya.

Jangan Berlebihan dan Bermewah-Mewahan

Dalam pelaksanaan sedekah bumi, hendaknya kita menjauhi pemborosan, hiburan yang melalaikan, kemaksiatan, atau keyakinan yang bertentangan dengan aqidah Islam.

Karena keberkahan tidak akan datang dari kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman:

(الأنعام: ١٤١)  وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya:

"Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

 

Kisah Hikmah

Para ulama salaf dahulu ketika mendapatkan hasil panen atau rezeki, mereka memperbanyak sedekah, syukur, dan membantu orang miskin.

Karena mereka yakin:

“Harta yang dibagikan di jalan Allah tidak akan membuat miskin.”

Bahkan keberkahan hidup sering hadir melalui kepedulian terhadap sesama.

 

Mari kita renungkan:

apakah selama ini kita sudah bersyukur atas nikmat bumi?

apakah hasil rezeki kita sudah dibagikan kepada yang membutuhkan?

apakah tradisi yang kita lakukan semakin mendekatkan diri kepada Allah?

Karena tradisi yang baik adalah tradisi yang membawa manfaat, persaudaraan, dan nilai ibadah.

Mari jadikan momentum sedekah bumi sebagai sarana memperkuat syukur, mempererat ukhuwah, memperbanyak sedekah, dan memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.

 

Semoga bumi kita diberi keberkahan, dijauhkan dari bencana, dilimpahi hasil yang baik, dan masyarakatnya hidup rukun serta penuh keberkahan.

 آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Rabu, 13 Mei 2026

Moderasi Beragama di Tengah Keberagaman: Menjaga Kerukunan dalam Momentum Peringatan Kenaikan Yesus Kristus

Islam Mengajarkan Keteguhan Akidah dan Kelembutan Akhlak

 

Indonesia adalah bangsa yang besar karena keberagamannya. Beragam suku, budaya, bahasa, dan agama hidup berdampingan dalam satu tanah air. Dalam kehidupan yang majemuk ini, kerukunan menjadi salah satu kunci penting menjaga persatuan bangsa.

Momentum peringatan Kenaikan Yesus Kristus dapat menjadi kesempatan bagi seluruh masyarakat untuk kembali meneguhkan nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan menjaga kedamaian antarumat beragama.

 

Sebagai umat Islam, kita meyakini dan memegang teguh akidah serta keyakinan yang diajarkan dalam agama Islam. Namun pada saat yang sama, Islam juga mengajarkan akhlak mulia dalam bermasyarakat, termasuk menghormati hak orang lain dalam menjalankan keyakinannya.

 Allah SWT berfirman:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”(QS. Al-Kafirun: 6)

 

Ayat ini mengandung pelajaran penting bahwa Islam mengajarkan prinsip keteguhan keyakinan tanpa harus memaksakan atau merendahkan keyakinan orang lain. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan akidah, melainkan menghormati perbedaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

 

Moderasi Beragama, Jalan Tengah yang Menyejukkan

 

Moderasi beragama adalah sikap beragama yang seimbang:

teguh dalam keyakinan

santun dalam pergaulan

bijak dalam menyikapi perbedaan

 

Di era media sosial saat ini, tantangan kerukunan semakin besar. Tidak sedikit ujaran kebencian, provokasi, bahkan penghinaan terhadap kelompok lain tersebar dengan mudah. Padahal Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga lisannya, menjaga sikapnya, dan menjadi pembawa kedamaian.

 

Rasulullah bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang membuat orang lain selamat dari lisan dan tangannya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadits ini mengingatkan bahwa keislaman seseorang tidak hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam sikap sosial yang menenangkan dan tidak menyakiti orang lain.

 

Menjaga Kerukunan adalah Bagian dari Tanggung Jawab Bersama

Kerukunan antarumat beragama bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh agama, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat.

 Kita dapat memulainya dari hal-hal sederhana:

  • menghormati tetangga yang berbeda agama

  • menjaga ucapan di media sosial
  • tidak menyebarkan kebencian atau provokasi
  • menjaga persatuan bangsa

 

Perbedaan adalah kenyataan kehidupan yang tidak bisa dihindari. Namun perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan. Justru dalam perbedaan, kita belajar saling menghargai dan hidup berdampingan secara damai.

 

Islam Rahmatan lil ‘Alamin

 

Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, dakwah Islam seharusnya menghadirkan kesejukan, bukan kebencian; menghadirkan persatuan, bukan perpecahan.

 

Sebagai umat Islam:

kita tetap kokoh menjaga akidah

tetap menjalankan syariat dengan baik

namun juga menjaga akhlak kepada sesama manusia

 

Inilah wajah Islam yang damai dan menebarkan rahmat.

 

Momentum peringatan Kenaikan Yesus Kristus hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa bangsa Indonesia dibangun di atas semangat persaudaraan dan saling menghormati.

 

Mari menjadi umat yang:

🌿 bijak dalam bersikap

🌿 santun dalam berbicara

🌿 damai dalam bermasyarakat

🌿 serta menjaga persatuan dan kerukunan bangsa

 

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga negeri ini dalam kedamaian, persatuan, dan keberkahan.

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

 

#ModerasiBeragama #KerukunanUmatBeragama #Toleransi #IslamRahmatanLilAlamin #PesanDamai #IndonesiaRukun #BhinnekaTunggalIka #DakwahSejuk #IslamDamai #PersatuanBangsa #KUAWinong #PenyuluhAgamaIslam

Renungan Pasca Idul Adha: Apakah Kita Sudah Berkurban untuk Allah?

  السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سي...