Rabu, 22 Juli 2026

Tetap Teguh di Tengah Ketidakpastian: Aqidah yang Kokoh, Akhlak yang Mulia

 Assalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāhi Rabbil 'ālamīn. Segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta'ālā yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita untuk kembali berkumpul dalam majelis ilmu, meskipun melalui media podcast.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad , keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Saudaraku yang dirahmati Allah...

Beberapa waktu terakhir, banyak di antara kita merasakan kegelisahan. Harga kebutuhan pokok berubah, peluang usaha naik turun, lapangan pekerjaan menjadi tantangan, dan berbagai kebijakan yang terus berkembang membuat sebagian orang bertanya-tanya tentang masa depan.

Dalam keadaan seperti ini, seorang mukmin perlu memiliki pegangan yang kokoh. Pegangan itu bukan sekadar kemampuan membaca situasi, tetapi aqidah yang benar dan akhlak yang mulia. Itulah yang akan kita bahas hari ini.

Dunia Memang Tempat Ujian 

Saudaraku...

Allah tidak pernah menjanjikan bahwa kehidupan dunia akan selalu mudah.

Justru Allah mengingatkan bahwa dunia adalah tempat ujian.

Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)

Perhatikan ayat ini.

Allah tidak mengatakan "jika" ujian datang.

Tetapi Allah mengatakan "Kami pasti akan menguji kalian."

Artinya, ujian adalah bagian dari kehidupan setiap manusia.

Yang membedakan bukan siapa yang diuji.

Tetapi bagaimana seseorang menghadapi ujian itu.

 

Aqidah Mengajarkan Tawakal, Bukan Putus Asa

 SPORTIFY LENTERA
Seorang mukmin yakin bahwa Allah adalah Ar-Razzāq, Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki.

Allah berfirman:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

"Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya." (QS. Hud: 6)

Ini bukan berarti kita berpangku tangan.

Nabi mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar.

Beliau bersabda:

"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang."

(HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dinilai sahih oleh sebagian ulama)

Perhatikan, burung tidak menunggu makanan datang ke sarangnya. Ia terbang, berusaha, lalu bertawakal. Demikian pula seorang mukmin.

 

Jangan Mudah Terprovokasi 

Di masa yang penuh informasi seperti sekarang, kita mudah menerima berita yang belum tentu benar.

Allah SWT mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)

Akhlak seorang muslim adalah menjaga lisan dan jemarinya. Jangan menyebarkan kabar yang belum jelas. Jangan menambah keresahan masyarakat dengan informasi yang tidak terverifikasi.

 

Sabar Bukan Berarti Pasrah 

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

"الصبر بمنزلة الرأس من الجسد"

"Kedudukan sabar terhadap iman seperti kepala terhadap tubuh." ('Uddatush Shabirin)

Sabar memiliki tiga bentuk:

1.     Sabar dalam menaati Allah.

2.     Sabar meninggalkan maksiat.

3.     Sabar menghadapi takdir yang tidak menyenangkan.

Maka ketika ekonomi sedang sulit, jangan tinggalkan shalat.

Ketika usaha menurun, jangan mencari jalan yang haram.

Ketika keadaan belum sesuai harapan, jangan putus asa dari rahmat Allah.


Menjadi Penebar Optimisme

Rasulullah adalah teladan dalam menebarkan harapan.

Saat Perang Khandaq, kaum muslimin berada dalam keadaan sulit. Namun Rasulullah tetap menanamkan optimisme dan mengingatkan bahwa pertolongan Allah pasti datang.

Allah berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh: 5–6)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan "setelah kesulitan", tetapi "bersama kesulitan". Ini memberi harapan bahwa di tengah ujian pun Allah menghadirkan jalan keluar.

Ikhtiar yang Diberkahi 

Dalam menghadapi kondisi yang tidak menentu, mari lakukan ikhtiar yang diridhai Allah:

  • Perbanyak doa dan istighfar.
  • Jaga shalat lima waktu dan perbanyak shalat sunnah.
  • Tingkatkan keterampilan dan etos kerja.
  • Hindari utang yang tidak perlu.
  • Perkuat silaturahmi dan gotong royong.
  • Sisihkan sebagian rezeki untuk sedekah, meskipun sedikit.

Rasulullah bersabda:

"مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ"

"Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim)

 

Saudaraku...

Keadaan boleh berubah.

Ekonomi bisa naik dan turun.

Situasi sosial dapat mengalami pasang surut.

Namun jangan biarkan iman kita ikut goyah.

Peganglah aqidah dengan kuat.

Hiasi diri dengan akhlak yang mulia.

Teruslah berikhtiar, bersabar, bertawakal, dan berdoa.

Semoga Allah menjaga negeri kita, memberikan keberkahan kepada para pemimpinnya agar mampu menunaikan amanah dengan adil, melapangkan rezeki masyarakat, menguatkan persatuan, serta menjadikan kita hamba-hamba yang tetap teguh dalam iman di setiap keadaan.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

"Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah pendirian kami..."
(QS. Al-Baqarah: 250)

Aamiin yā Rabbal 'ālamīn.

Wassalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.



Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati




Kamis, 18 Juni 2026

Perubahan Besar Selalu Berawal dari Hati yang Tulus

Tahun Baru Hijriah, Saatnya Memperbaiki Niat

Setiap datangnya Tahun Baru Hijriah, kaum muslimin diingatkan kembali pada peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah.

Namun hijrah bukan sekadar perpindahan tempat.

Hijrah adalah perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Hijrah adalah perubahan dari yang buruk menjadi baik, dari yang lalai menjadi sadar, dari yang jauh menjadi dekat kepada Allah SWT.

Dan semua perubahan besar itu selalu dimulai dari satu hal yang sederhana namun sangat menentukan, yaitu niat.


Karena tanpa niat yang benar, langkah yang besar sekalipun bisa kehilangan nilainya di sisi Allah.

Niat Adalah Pondasi Segala Amal

Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini merupakan salah satu hadis paling agung dalam Islam.

Para ulama bahkan menyebutnya sebagai seperempat ajaran agama Islam karena hampir seluruh amal bergantung pada niat.

Orang yang rajin beribadah tetapi mencari pujian manusia akan berbeda nilainya dengan orang yang beribadah karena mengharap ridha Allah.

Begitu pula seseorang yang ingin berhijrah. Jika niatnya hanya mengikuti tren, maka semangatnya akan mudah pudar. Namun jika niatnya karena Allah, maka ia akan tetap istiqamah meskipun menghadapi berbagai ujian.

Makna Hijrah yang Sesungguhnya

Banyak orang mengira hijrah hanya identik dengan perubahan penampilan.

Padahal makna hijrah jauh lebih luas daripada itu.

Hijrah adalah proses memperbaiki diri secara menyeluruh.

Rasulullah bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. Bukhari)

Artinya, siapa pun yang meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, maka ia sedang berhijrah.

Siapa pun yang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, maka ia sedang berhijrah.

Siapa pun yang memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia, maka ia sedang menjalani perjalanan hijrah.

Hijrah Dimulai Dari Niat Untuk...

1. Meninggalkan Maksiat dan Kebiasaan Buruk

Setiap manusia memiliki kekurangan dan dosa.

Hijrah dimulai ketika seseorang bertekad meninggalkan kebiasaan yang tidak diridhai Allah.

Mulai dari menjaga lisan, menjaga pandangan, meninggalkan ghibah, fitnah, serta berbagai perbuatan yang merusak hati.

2. Memperbaiki Diri dan Mendekat Kepada Allah

Hijrah bukan hanya meninggalkan yang buruk.

Tetapi juga memperbanyak amal kebaikan.

Memperbaiki kualitas shalat.

Memperbanyak membaca Al-Qur'an.

Memperbanyak dzikir dan doa.

Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

3. Menebar Kebaikan dan Manfaat

Seorang muslim yang berhijrah akan berusaha menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Bukan hanya memikirkan dirinya sendiri.

Tetapi juga peduli terhadap keluarga, tetangga, masyarakat, dan umat.

Karena Rasulullah bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)

4. Menjaga Hati, Lisan dan Perbuatan

Hijrah sejati tidak hanya terlihat dari luar.

Tetapi juga tampak dari kebersihan hati.

Menjauhi iri, dengki, sombong dan prasangka buruk.

Mengendalikan ucapan agar tidak menyakiti orang lain.

Serta menjaga perilaku agar selalu mencerminkan akhlak mulia.

Perubahan Besar Berawal dari Langkah Kecil

Banyak orang ingin langsung berubah secara drastis.

Padahal perubahan yang bertahan lama biasanya dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara istiqamah.

Mulailah dari:

Shalat tepat waktu

Membaca Al-Qur'an beberapa ayat setiap hari

Bersedekah meskipun sedikit

Menjaga ucapan

Memperbanyak istighfar

Sedikit demi sedikit, Allah akan membimbing kita menuju perubahan yang lebih besar.

Tahun Baru Hijriah Adalah Momentum Memulai

Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka.

Tetapi momentum untuk memperbaharui niat.

Membuka lembaran baru kehidupan.

Memperbaiki kesalahan masa lalu.

Dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik.  Allah SWT berfirman:

 وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

 "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut: 69)

 

Hijrah bukan perjalanan satu hari.

 Hijrah adalah perjalanan seumur hidup.

 Tidak ada manusia yang langsung sempurna.

 Tetapi setiap muslim diperintahkan untuk terus memperbaiki diri.

 Mulailah hari ini.

 Mulailah dari niat yang tulus karena Allah.

 Karena perubahan besar selalu berawal dari niat yang kecil, namun ikhlas.

"Hijrah dimulai dari niat. Niat yang benar akan melahirkan langkah yang benar, dan langkah yang benar akan mengantarkan kepada ridha Allah."

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

 

📘 Facebook : mazkiemochiem

📷 Instagram : @mazkiemochiem

🎵 TikTok : @mazkiemochiem

▶️ YouTube : Lengera 3429

Sabtu, 06 Juni 2026

Renungan Pasca Idul Adha: Apakah Kita Sudah Berkurban untuk Allah?

 السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين


Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Hari-hari Idul Adha telah berlalu. Kumandang takbir yang menggema di masjid dan mushala mulai mereda. Hewan-hewan kurban telah disembelih, daging telah dibagikan, dan sebagian besar dari kita telah kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Namun pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah:

Apakah Idul Adha hanya meninggalkan kenangan, atau meninggalkan perubahan dalam kehidupan kita?

Karena sesungguhnya, nilai terbesar dari Idul Adha bukan terletak pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan pada sejauh mana hati kita semakin dekat kepada Allah SWT.

Allah berfirman:

﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ﴾

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak membutuhkan daging ataupun darah kurban. Yang Allah lihat adalah keikhlasan, ketaatan, dan ketakwaan yang tumbuh dalam diri seorang hamba.

 Belajar dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Saudaraku yang dimuliakan Allah,

Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.

Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya yang sangat dicintainya, beliau tidak membantah. Beliau tidak menunda. Beliau tidak mencari alasan.

Sebaliknya, beliau tunduk dan patuh kepada perintah Allah.

Allah mengabadikan dialog yang mengharukan itu:

﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu." Ismail menjawab, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102)

Inilah pelajaran terbesar Idul Adha: ketaatan di atas kepentingan pribadi, cinta kepada Allah di atas segala-galanya.

 Kurban yang Sesungguhnya

Jamaah yang berbahagia,

Tidak semua orang mampu berkurban dengan hewan setiap tahun. Namun setiap muslim sesungguhnya mampu berkurban dalam bentuk yang lain.

Setelah Idul Adha, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

  • Sudahkah kita mengurbankan ego dan kesombongan?
  • Sudahkah kita mengurbankan sifat malas dalam beribadah?
  • Sudahkah kita mengurbankan amarah yang sering merusak hubungan?
  • Sudahkah kita mengurbankan kecintaan berlebihan terhadap dunia?

Karena terkadang yang paling sulit dikorbankan bukan kambing atau sapi, tetapi hawa nafsu yang bercokol di dalam diri.

Allah berfirman:

﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ﴾

"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Nazi'at: 40-41)

Menjaga Semangat Berbagi

Salah satu hikmah Idul Adha adalah tumbuhnya kepedulian sosial.

Saat hari raya, kita melihat senyum orang-orang yang menerima daging kurban. Kita menyaksikan kebahagiaan saudara-saudara kita yang mungkin jarang menikmati makanan bergizi.

Maka jangan biarkan semangat berbagi itu berhenti setelah Idul Adha.

Rasulullah bersabda:

«أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»

"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ath-Thabrani)

Jadilah muslim yang kehadirannya membawa manfaat, bukan hanya pada bulan tertentu, tetapi sepanjang waktu.

 Refleksi untuk Era Digital

Saudara-saudaraku,

Di era media sosial saat ini, sering kali kita sibuk menampilkan citra diri yang baik di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.

Kita mudah mengunggah foto kurban, tetapi belum tentu mudah menjaga keikhlasan.

Kita mudah membagikan ucapan Idul Adha, tetapi belum tentu mudah mengamalkan nilai-nilainya.

Karena itu, pasca Idul Adha mari kita perbarui niat:

  • Lebih rajin shalat berjamaah.
  • Lebih dekat dengan Al-Qur'an.
  • Lebih santun dalam bermedia sosial.
  • Lebih peduli kepada sesama.
  • Lebih ikhlas dalam beramal.

 Saudaraku yang dirahmati Allah,

Idul Adha telah mengajarkan kepada kita tentang keikhlasan Nabi Ibrahim, kesabaran Nabi Ismail, dan ketaatan yang sempurna kepada Allah SWT.

Jangan biarkan semangat itu berhenti ketika hari raya berakhir.

Mari jadikan hari-hari setelah Idul Adha sebagai momentum untuk menjadi hamba yang lebih bertakwa, lebih ikhlas, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, menerima kurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan.

اللهم تقبل منا إنك أنت السميع العليم، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين يا رب العالمين

والله أعلم بالصواب

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Selasa, 26 Mei 2026

Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah

 Idul Adha: Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah

Oleh: Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong

 

Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, bukan hanya tentang hewan kurban yang disembelih, bukan pula sekadar berkumpul bersama keluarga dan menikmati hidangan istimewa. Di balik suasana takbir yang menggema dan kebersamaan yang terasa hangat, tersimpan pelajaran yang sangat besar tentang keikhlasan, ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian kepada sesama.

Idul Adha mengingatkan umat Islam kepada kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS, kisah yang hingga hari ini tetap menjadi pelajaran sepanjang zaman.

 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Artinya:

"Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu. Dia (Ismail) menjawab: Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Bayangkan, Nabi Ibrahim yang bertahun-tahun menanti kehadiran seorang anak, justru diperintahkan
untuk mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya.

Namun beliau mengajarkan satu hal penting: ketaatan kepada Allah harus berada di atas segala-galanya.

Sebagian orang berpikir bahwa kurban hanya dilakukan ketika menyembelih kambing atau sapi. Padahal makna kurban jauh lebih luas dari itu.

Setiap hari sesungguhnya kita sedang belajar berkurban:

  • berkurban waktu untuk keluarga,
  • berkurban tenaga untuk kebaikan,
  • berkurban harta untuk membantu sesama,
  • berkurban ego demi menjaga persaudaraan,
  • bahkan berkurban keinginan diri demi ketaatan kepada Allah.

Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
(الحج: ٣٧)

Artinya:

"Daging dan darah kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian."

 Di era sekarang, manusia sering diuji bukan dengan kehilangan sesuatu, tetapi dengan kecintaan berlebihan terhadap dunia:

  • sibuk mengejar pekerjaan,
  • sibuk mengejar jabatan,
  • sibuk mengejar popularitas,
  • sibuk dengan media sosial,
  • hingga terkadang lupa pada keluarga dan ibadah.

Idul Adha hadir untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar mengejar dunia, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat hubungan dengan sesama manusia.

 

Mari jadikan Idul Adha bukan hanya acara tahunan, tetapi sebagai momentum untuk memperbaiki diri:

memperkuat keikhlasan
memperbanyak rasa syukur
mempererat silaturahmi
meningkatkan kepedulian sosial
memperkuat hubungan dengan Allah

Karena orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki harta paling banyak, tetapi yang memiliki hati yang penuh syukur dan kepedulian.

 Semoga Hari Raya Idul Adha tidak hanya menghadirkan kebahagiaan sesaat, tetapi juga menghadirkan perubahan dalam diri kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih ikhlas, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

"Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan amal ibadah kalian."

Mohon maaf lahir dan batin.

Minggu, 24 Mei 2026

Hari Tarwiyah : Menyiapkan Hati Menuju Ketaatan

 

 السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أَمَّا بَعْدُ

Pernahkah Kita Memikirkan Ini?

Saat akan bepergian jauh, kita menyiapkan banyak hal:

pakaian
uang saku
makanan
kendaraan
bahkan daftar barang agar tidak ada yang tertinggal

Namun ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan:

Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk perjalanan menuju Allah?

Di bulan Dzulhijjah, umat Islam mengenal Hari Tarwiyah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum Hari Arafah. Di balik hari ini tersimpan pelajaran yang sangat dalam tentang persiapan, bekal, dan ketakwaan.

 

Apa Itu Hari Tarwiyah?

Secara bahasa, kata Tarwiyah berasal dari kata:

رَوَى – يَرْوِي

yang bermakna membawa persediaan air atau mempersiapkan bekal.

Pada masa dahulu, para jamaah haji menyiapkan air sebelum menuju Mina dan Arafah.


Namun jika direnungkan lebih dalam, Hari Tarwiyah bukan sekadar tentang persiapan fisik, melainkan juga pengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan bekal terbaik.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ (البقرة: ١٩٧

Artinya:

"Berbekallah kalian karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan."

Manusia Sering Sibuk Menyiapkan yang Dekat, Tetapi Lupa dengan yang Jauh

Realitas hari ini menarik untuk diperhatikan.

Kita menyiapkan:

  • gawai terbaru
  • pekerjaan
  • rumah
  • tabungan
  • kendaraan

Tetapi sering lupa menyiapkan:

  • shalat yang khusyuk
  • bacaan Al-Qur'an
  • amal saleh
  • hati yang bersih
  • taubat dan istighfar

Padahal perjalanan dunia hanya sementara, sedangkan perjalanan akhirat tidak ada batas akhirnya.

 

Hari Tarwiyah dan Kehidupan Kita Hari Ini

Banyak orang memiliki jadwal yang penuh.

Bangun pagi, bekerja, rapat, membuka media sosial, mengejar target, lalu kembali tidur.

Hari berganti begitu cepat.

Kadang tanpa disadari, kita sibuk memperbarui status media sosial tetapi lupa memperbarui hubungan dengan Allah.


Kita sibuk mengisi baterai tele
pon genggam hingga penuh, tetapi membiarkan hati kosong dari dzikir.

Padahal hati juga membutuhkan "isi ulang".


Isi ulang hati dilakukan dengan:

  • memperbanyak istighfar
  • membaca Al-Qur'an
  • berdzikir
  • memperbaiki niat
  • memperbanyak amal saleh


Pesan Hikmah Hari Ini

Hari Tarwiyah mengajarkan bahwa persiapan bukan hanya urusan dunia, tetapi juga urusan akhirat.

Jangan hanya menyiapkan hidup untuk esok hari.

Siapkan juga kehidupan setelah hari ini.

Karena pada akhirnya bukan jabatan, harta, atau popularitas yang menemani kita, tetapi amal yang pernah kita lakukan.

 

Muhasabah Diri

Coba tanyakan pada diri sendiri:

  • Sudahkah shalat kita semakin baik?
  • Sudahkah kita memperbanyak istighfar?
  • Sudahkah kita menyiapkan amal jariyah?
  • Sudahkah hati kita dekat dengan Allah?

Karena bekal terbaik bukanlah apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita bawa menuju akhirat.

 "Jangan hanya mempersiapkan perjalanan dunia yang beberapa jam, tetapi persiapkan juga perjalanan menuju Allah yang berlangsung selamanya."

 وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ


Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Senin, 18 Mei 2026

KEUTAMAAN MEMASUKI BULAN DZULHIJJAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga pada hari ini kita masih dapat berkumpul dalam majelis ilmu yang insyaAllah penuh keberkahan.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad , kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena sebaik-baik bekal kehidupan adalah ketakwaan.

"Keutamaan Memasuki Bulan Dzulhijjah"

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

(الفجر: ١–٢)وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Artinya:

"Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh."

Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud sepuluh malam dalam ayat tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Hadis Nabi

Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ

قَالُوا: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟

(رواه البخاري) قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Artinya:

"Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada hari itu lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini." Para sahabat bertanya: "Termasuk jihad di jalan Allah?" Nabi menjawab: "Termasuk jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun."

Mengapa Dzulhijjah Sangat Istimewa?

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang memiliki banyak kemuliaan.

Di dalamnya terdapat pelaksanaan ibadah haji, hari Arafah, ibadah kurban, hari raya Idul Adha, dan sepuluh hari terbaik dalam setahun.

Bahkan sebagian ulama menjelaskan bahwa siang hari sepuluh Dzulhijjah lebih utama daripada hari-hari lainnya.

Maka orang yang cerdas adalah yang memanfaatkan kesempatan emas ini.

Amalan yang Dianjurkan pada Awal Dzulhijjah

Mari kita hidupkan hari-hari mulia ini dengan:

1. Memperbanyak shalat sunnah

2. Memperbanyak membaca Al-Qur'an

3. Memperbanyak dzikir

Seperti membaca  سُبْحَانَ اللَّهِ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ, وَاللَّهُ أَكْبَرُ

4. Bersedekah

5. Berpuasa sunnah

6. Memperbanyak istighfar dan doa

 

Kisah Hikmah

Dahulu para ulama salaf ketika memasuki sepuluh hari pertama Dzulhijjah memperbanyak ibadah dengan sungguh-sungguh.

Diriwayatkan bahwa Sa'id bin Jubair رحمه الله apabila telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah sampai hampir-hampir tidak mampu menambah lagi amalnya.

Beliau berkata:

"Janganlah kalian padamkan pelita amal pada hari-hari yang penuh keberkahan ini."

 

Mari kita renungkan,

Sudahkah kita menyambut Dzulhijjah dengan semangat ibadah?

Ataukah kita justru sibuk dengan urusan dunia?

Sudahkah kita mempersiapkan amal terbaik?

Karena boleh jadi Dzulhijjah tahun ini menjadi Dzulhijjah terakhir bagi kita.

 

Banyak kesempatan datang dalam hidup, tetapi tidak semua kesempatan kembali lagi.

Dzulhijjah adalah musim pahala.

Pedagang dunia memanfaatkan musim keuntungan.

 

Maka seorang mukmin juga harus memanfaatkan musim pahala dari Allah.

Jangan sampai kita menyesal ketika kesempatan itu berlalu.

اَللَّهُمَّ بَلِّغْنَا فَضْلَ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْمُبَارَكَةِ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Ya Allah, sampaikanlah kami pada keberkahan hari-hari yang mulia ini, dan bantulah kami untuk berdzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik kepada-Mu."

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang memanfaatkan bulan Dzulhijjah dengan amal saleh dan menjadikan hidup kita penuh keberkahan.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong