Senin, 18 Mei 2026

KEUTAMAAN MEMASUKI BULAN DZULHIJJAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga pada hari ini kita masih dapat berkumpul dalam majelis ilmu yang insyaAllah penuh keberkahan.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad , kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena sebaik-baik bekal kehidupan adalah ketakwaan.

"Keutamaan Memasuki Bulan Dzulhijjah"

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

(الفجر: ١–٢)وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Artinya:

"Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh."

Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud sepuluh malam dalam ayat tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Hadis Nabi

Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ

قَالُوا: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟

(رواه البخاري) قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Artinya:

"Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada hari itu lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini." Para sahabat bertanya: "Termasuk jihad di jalan Allah?" Nabi menjawab: "Termasuk jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun."

Mengapa Dzulhijjah Sangat Istimewa?

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang memiliki banyak kemuliaan.

Di dalamnya terdapat pelaksanaan ibadah haji, hari Arafah, ibadah kurban, hari raya Idul Adha, dan sepuluh hari terbaik dalam setahun.

Bahkan sebagian ulama menjelaskan bahwa siang hari sepuluh Dzulhijjah lebih utama daripada hari-hari lainnya.

Maka orang yang cerdas adalah yang memanfaatkan kesempatan emas ini.

Amalan yang Dianjurkan pada Awal Dzulhijjah

Mari kita hidupkan hari-hari mulia ini dengan:

1. Memperbanyak shalat sunnah

2. Memperbanyak membaca Al-Qur'an

3. Memperbanyak dzikir

Seperti membaca  سُبْحَانَ اللَّهِ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ, وَاللَّهُ أَكْبَرُ

4. Bersedekah

5. Berpuasa sunnah

6. Memperbanyak istighfar dan doa

 

Kisah Hikmah

Dahulu para ulama salaf ketika memasuki sepuluh hari pertama Dzulhijjah memperbanyak ibadah dengan sungguh-sungguh.

Diriwayatkan bahwa Sa'id bin Jubair رحمه الله apabila telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah sampai hampir-hampir tidak mampu menambah lagi amalnya.

Beliau berkata:

"Janganlah kalian padamkan pelita amal pada hari-hari yang penuh keberkahan ini."

 

Mari kita renungkan,

Sudahkah kita menyambut Dzulhijjah dengan semangat ibadah?

Ataukah kita justru sibuk dengan urusan dunia?

Sudahkah kita mempersiapkan amal terbaik?

Karena boleh jadi Dzulhijjah tahun ini menjadi Dzulhijjah terakhir bagi kita.

 

Banyak kesempatan datang dalam hidup, tetapi tidak semua kesempatan kembali lagi.

Dzulhijjah adalah musim pahala.

Pedagang dunia memanfaatkan musim keuntungan.

 

Maka seorang mukmin juga harus memanfaatkan musim pahala dari Allah.

Jangan sampai kita menyesal ketika kesempatan itu berlalu.

اَللَّهُمَّ بَلِّغْنَا فَضْلَ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْمُبَارَكَةِ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Ya Allah, sampaikanlah kami pada keberkahan hari-hari yang mulia ini, dan bantulah kami untuk berdzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik kepada-Mu."

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang memanfaatkan bulan Dzulhijjah dengan amal saleh dan menjadikan hidup kita penuh keberkahan.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Sabtu, 16 Mei 2026

Sedekah Pembuka Keberkahan : Memaknai Tradisi Sedekah Bumi dengan Nilai Syukur dan Kepedulian Sosial

 

Sedekah Pembuka Keberkahan

Memaknai Tradisi Sedekah Bumi dengan Nilai Syukur dan Kepedulian Sosial

 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ

 

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena tidak ada bekal terbaik dalam kehidupan ini selain ketakwaan.

Di tengah masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan, saat ini banyak berlangsung tradisi sedekah bumi. Kegiatan ini biasanya diisi dengan doa bersama, berbagi makanan, santunan, pengajian, dan ungkapan rasa syukur atas hasil bumi serta nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Sebagai umat Islam, tradisi yang baik hendaknya diarahkan menjadi sarana memperkuat syukur kepada Allah, mempererat persaudaraan, memperbanyak sedekah, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Karena hakikat keberkahan bumi bukan berasal dari ritual adat semata, tetapi dari ketaatan, doa, dan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

(إبراهيم: ٧)  لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Artinya:

"Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian."

Dan Allah juga berfirman:

(البقرة: ٢٦١)  مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ

Artinya:

"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai."

Rasulullah bersabda:

(رواه مسلم)  مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Artinya:

"Sedekah tidak akan mengurangi harta."

Hadis ini mengajarkan bahwa berbagi kepada sesama justru membuka pintu keberkahan hidup.

Sedekah Bumi dalam Nilai Islam

Tradisi sedekah bumi akan menjadi baik apabila diisi dengan doa kepada Allah, pengajian, sedekah kepada fakir miskin, santunan anak yatim, mempererat silaturahmi, dan ungkapan rasa syukur atas nikmat hasil panen serta rezeki dari Allah.

Karena pada hakikatnya bumi adalah ciptaan Allah, hasil panen adalah pemberian Allah, hujan turun atas izin Allah, dan seluruh rezeki berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka rasa syukur itu harus dikembalikan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya.

Sedekah sebagai Bentuk Syukur

Sering kali manusia menikmati hasil panen, usaha, dan kekayaan, tetapi lupa berbagi kepada sesama.

Padahal keberkahan rezeki akan semakin bertambah ketika digunakan untuk membantu tetangga, memberi makan fakir miskin, membantu pembangunan masjid, mendukung pendidikan anak yatim, dan kegiatan sosial keagamaan.


Inilah makna sedekah yang sesungguhnya.

Jangan Berlebihan dan Bermewah-Mewahan

Dalam pelaksanaan sedekah bumi, hendaknya kita menjauhi pemborosan, hiburan yang melalaikan, kemaksiatan, atau keyakinan yang bertentangan dengan aqidah Islam.

Karena keberkahan tidak akan datang dari kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman:

(الأنعام: ١٤١)  وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya:

"Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

 

Kisah Hikmah

Para ulama salaf dahulu ketika mendapatkan hasil panen atau rezeki, mereka memperbanyak sedekah, syukur, dan membantu orang miskin.

Karena mereka yakin:

“Harta yang dibagikan di jalan Allah tidak akan membuat miskin.”

Bahkan keberkahan hidup sering hadir melalui kepedulian terhadap sesama.

 

Mari kita renungkan:

apakah selama ini kita sudah bersyukur atas nikmat bumi?

apakah hasil rezeki kita sudah dibagikan kepada yang membutuhkan?

apakah tradisi yang kita lakukan semakin mendekatkan diri kepada Allah?

Karena tradisi yang baik adalah tradisi yang membawa manfaat, persaudaraan, dan nilai ibadah.

Mari jadikan momentum sedekah bumi sebagai sarana memperkuat syukur, mempererat ukhuwah, memperbanyak sedekah, dan memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.

 

Semoga bumi kita diberi keberkahan, dijauhkan dari bencana, dilimpahi hasil yang baik, dan masyarakatnya hidup rukun serta penuh keberkahan.

 آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Rabu, 13 Mei 2026

Moderasi Beragama di Tengah Keberagaman: Menjaga Kerukunan dalam Momentum Peringatan Kenaikan Yesus Kristus

Islam Mengajarkan Keteguhan Akidah dan Kelembutan Akhlak

 

Indonesia adalah bangsa yang besar karena keberagamannya. Beragam suku, budaya, bahasa, dan agama hidup berdampingan dalam satu tanah air. Dalam kehidupan yang majemuk ini, kerukunan menjadi salah satu kunci penting menjaga persatuan bangsa.

Momentum peringatan Kenaikan Yesus Kristus dapat menjadi kesempatan bagi seluruh masyarakat untuk kembali meneguhkan nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan menjaga kedamaian antarumat beragama.

 

Sebagai umat Islam, kita meyakini dan memegang teguh akidah serta keyakinan yang diajarkan dalam agama Islam. Namun pada saat yang sama, Islam juga mengajarkan akhlak mulia dalam bermasyarakat, termasuk menghormati hak orang lain dalam menjalankan keyakinannya.

 Allah SWT berfirman:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”(QS. Al-Kafirun: 6)

 

Ayat ini mengandung pelajaran penting bahwa Islam mengajarkan prinsip keteguhan keyakinan tanpa harus memaksakan atau merendahkan keyakinan orang lain. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan akidah, melainkan menghormati perbedaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

 

Moderasi Beragama, Jalan Tengah yang Menyejukkan

 

Moderasi beragama adalah sikap beragama yang seimbang:

teguh dalam keyakinan

santun dalam pergaulan

bijak dalam menyikapi perbedaan

 

Di era media sosial saat ini, tantangan kerukunan semakin besar. Tidak sedikit ujaran kebencian, provokasi, bahkan penghinaan terhadap kelompok lain tersebar dengan mudah. Padahal Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga lisannya, menjaga sikapnya, dan menjadi pembawa kedamaian.

 

Rasulullah bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang membuat orang lain selamat dari lisan dan tangannya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadits ini mengingatkan bahwa keislaman seseorang tidak hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam sikap sosial yang menenangkan dan tidak menyakiti orang lain.

 

Menjaga Kerukunan adalah Bagian dari Tanggung Jawab Bersama

Kerukunan antarumat beragama bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh agama, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat.

 Kita dapat memulainya dari hal-hal sederhana:

  • menghormati tetangga yang berbeda agama

  • menjaga ucapan di media sosial
  • tidak menyebarkan kebencian atau provokasi
  • menjaga persatuan bangsa

 

Perbedaan adalah kenyataan kehidupan yang tidak bisa dihindari. Namun perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan. Justru dalam perbedaan, kita belajar saling menghargai dan hidup berdampingan secara damai.

 

Islam Rahmatan lil ‘Alamin

 

Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, dakwah Islam seharusnya menghadirkan kesejukan, bukan kebencian; menghadirkan persatuan, bukan perpecahan.

 

Sebagai umat Islam:

kita tetap kokoh menjaga akidah

tetap menjalankan syariat dengan baik

namun juga menjaga akhlak kepada sesama manusia

 

Inilah wajah Islam yang damai dan menebarkan rahmat.

 

Momentum peringatan Kenaikan Yesus Kristus hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa bangsa Indonesia dibangun di atas semangat persaudaraan dan saling menghormati.

 

Mari menjadi umat yang:

🌿 bijak dalam bersikap

🌿 santun dalam berbicara

🌿 damai dalam bermasyarakat

🌿 serta menjaga persatuan dan kerukunan bangsa

 

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga negeri ini dalam kedamaian, persatuan, dan keberkahan.

 

Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam KUA Winong

 

#ModerasiBeragama #KerukunanUmatBeragama #Toleransi #IslamRahmatanLilAlamin #PesanDamai #IndonesiaRukun #BhinnekaTunggalIka #DakwahSejuk #IslamDamai #PersatuanBangsa #KUAWinong #PenyuluhAgamaIslam

Minggu, 06 Oktober 2024

MODERASI BERAGAMA PENJAGA PERSATUAN BANGSA

 

الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله. والصلاة والسلام على رسول الله محمد صلى الله عليه وسلم، الذي جاءنا بالإسلام دين الوسطية والاعتدال أما بعد، فإن موضوع الاعتدال في الدين يُعدّ من أهم القضايا التي يحتاجها المجتمع في العصر الحالي، حيث نشهد كثيرًا من التحديات الفكرية والاجتماعية التي تجعل من الضروري التمسك بمبادئ الوسطية والاعتدال في كل مجالات الحياة، وخاصة في الأمور الدينية  فالإسلام دين الاعتدال الذي لا يغلو في أي جانب من جوانب الحياة، وهو دين يتطلب من أتباعه  التعامل مع الآخرين بحكمة ورحمة، سواء كانوا مسلمين أو غير مسلمين، إذ قال الله تعالى في كتابه العزيز:  

 "وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا" (البقرة: 143).


Moderasi beragama adalah sikap yang seimbang dan tidak berlebihan dalam menjalankan ajaran agama. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berada di jalan tengah, tidak ekstrem dan tidak pula lalai.

1. Pentingnya Moderasi dalam Beragama

Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan dan moderasi. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 143:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ  وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ  ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ 

"Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan


) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia
".

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT menjadikan umat Islam sebagai umat yang moderat, yang selalu berada di tengah-tengah antara dua kutub ekstrem.

2. Menghindari Sikap Berlebihan dalam Beragama

Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk menghindari sikap berlebihan dalam beragama. Beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ ؛ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ

"Jauhilah oleh kalian berlebih-lebihan dalam beragama, karena yang demikian itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian." (HR. Ahmad)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa sikap berlebihan dalam menjalankan ajaran agama dapat membawa kepada kehancuran, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

3. Mengutamakan Toleransi dan Kesabaran

Islam mengajarkan kita untuk bersikap toleran dan sabar dalam berinteraksi dengan orang lain, termasuk yang berbeda keyakinan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ 

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Ayat ini mengajarkan kita untuk saling mengenal dan menghormati perbedaan yang ada di antara kita, serta mengutamakan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan di sisi Allah SWT.

4. Menjaga Persatuan dan Kesatuan Umat

Moderasi dalam beragama juga berarti menjaga persatuan dan kesatuan umat. Nabi Muhammad SAW bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

"Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain seperti bangunan yang sebagian menguatkan sebagian yang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan kita untuk saling mendukung dan memperkuat satu sama lain, serta menjaga persatuan dan kesatuan di antara umat Islam.

5. Mengedepankan Akhlak Mulia

Moderasi beragama juga tercermin dalam akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)

Dengan mengedepankan akhlak mulia, kita menunjukkan sikap moderat dalam beragama, yang tidak hanya mementingkan aspek ibadah tetapi juga aspek sosial dan kemanusiaan.

Kesimpulannya

Moderasi dalam beragama adalah kunci untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan dalam menjalani kehidupan beragama. Dengan bersikap moderat, kita dapat menghindari sikap ekstrem yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, serta menjaga persatuan dan kesatuan umat.










Abdul Rochim, S.H.

Penyuluh Agama Islam Kecamatan Winong


Sabtu, 08 Juni 2024

KEPADA SIAPAKAH KITA HARUS BERLAKU ADIL

 اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ.

 أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَام

وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام.

  اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين

       أَمَّا بَعْدُ: ... فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَايَحْتَسِبُ


       Ma’a’asyiral muslimin wal-mu’minin rahimakumullah,

       Pada saat ini, saya mengajak kepada hadirin sekalian untuk selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang telah dianugerahkan Allah Swt. kepada kita. Hingga saat ini, kita diberikan kemampuan untuk hadir memenuhi panggilan Allah, melaksanakan kewajiban kita beribadah pada hari Jum’at.

       Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah membawa dan mengeluarkan kita dari alam gelap gulita, jahiliyah, menuju alam terang benderang dengan sinar dan pancaran Ilahi Rabbi, dengan syariat yang kita laksanakan. Semoga salawat dan salam ini tercurah pula kepada keluarga dan para sahabatnya serta kepada para pengikutnya yang setia dan taat mengikuti sunnahnya hingga yaumil akhir kelak.

       Selanjutnya khatib berpesan, marilah kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa, berusaha untuk senantiasa melakukan kebaikan dan meninggalkan segala bentuk kejahatan dan maksiat.

       Kaum muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah

        Perilaku adil merupakan bagian dari al-akhlaq al-karimah, apabila definisi adil itu sudah direfleksikan dengan sebuah sikap dan perilaku, maka ia akan menjadi bagian dari sifat akhlak yang terpuji. Sikap dan perilaku adil merupakan sebuah refresentasi dari perilaku seseorang,  lalu terbukti dalam perilaku nyata dalam kesehariannya, maka ia tidak akan pernah mendzalimi kepada orang lain dan kelompok manapun. Ia akan senantiasa berlaku adil dengan berlandaskan pada hukum-hukum Allah.

       Adil juga bisa dimaknai dengan dengan memposisikan sesuatu itu sesuai dengan letak dan porsinya. Dengan dasar sabda Nabi Saw:

وضع شيءفى محله

       Adil itu adalah menempatkan sesuatu pada forsinya

       Meletakkan dasar-dasar keadilan pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah sebuah keniscayaan dan kewajiban pada setiap individu dan pribadi muslim, apalagi bagi seseorang yang sedang mengemban amanah sebagai pemimpin. Allah Swt. menegaskan dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat ke-58:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرً

       Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat

       Kaum muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah,

       Perilaku terpuji dalam menerapkan nilai dan makna adil dan paling mudah dilihat dalam tatanan kehidupan adalah menetapkan suatu kebenaran terhadap dua masalah atau beberapa masalah yang kompleks untuk dipecahkan sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh syariat agama.

       Dengan demikian, perbuatan adil itu merupakan suatu tindakan yang berdasar pada nilai-nilai kebenaran, bukan mengikuti kehendak hawa nafsu pribadi. Allah Swt., menegaskan:

اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

       ...berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-maidah: 8)

       Kita selaku pribadi-pribadi muslim yang beriman, dituntut untuk selalu menegakan kebenaran karena Allah, abila kita menjadi saksi maka kita harus menjadi saksi yang sebenar-benarnya, dan sejujur-jujurnya. Sejatinya pribadi muslim itu sangat anti terhadap dusta dan kebohongan, terlebih kebohongan yang berimplikasi pada tatanan publik yang luas, karena dampaknya akan luar biasa. Pribadi muslim, apalagi yang mempunyai amanah sebagai pemimpin, sekali-kali tidak boleh memihak pada salah satu pihak atau golongan, sebab hal itu adalah bagian dari ketidakadilan. Seorang pemimpin harus berlaku adil kepada seluruh yang dipimpinnya, bahkan tanpa terkecuali  kepada musuhnya atau rakyat yang tidak memihak kepadanya sekalipun.

       Begitu niscayanya penerapan keadilan dalam kehidupan masyarakat, hingga Rasulullah pernah bersabda:

وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

       ... Demi Allah Jika sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya. (HR. Bukhari) 

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Berperilaku adil dapat kita realisasikan kedalam beberapa hal, diantaranya:

       Pertama, berlaku adillah kepada Allah. Maknanya adalah kita harus mampu dan beri’tikad dalam jiwa dan perilaku kita untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang harus kita sembah. Inilah prinsip keadilan utama setiap pribadi muslim dengan Dzat yang telah menciptakan dirinya. Ia (pribadi muslim) menyadari bahwa semua nikmat yang melekat dalam setiap gerak dan langkahnya merupakan karunia dari Allah Swt. Maka berbuat adil dalam pemahaman makna ini adalah berlaku proporsional kepada Allah adalah dengan memenuhi hak-Nya.

        Kemudian yang kedua berlaku adillah kepada diri sendiri.

        Maknanya adalah mampu meletakkan dirinya pada situasi dan kondisi yang baik, dan berprinsip pada nilai-nilai kebenaran. Mampu memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani sesuai dengan norma syariat agama.

        Pribadi yang sudah mampu menyeleksi makanan-makanan yang halal dari yang haram, bahkan mampu menyeleksi makanan yang baik dengan yang baik namun kurang baik bagi kesehatan tubuhnya, dengan istilah yang sangat populer halalan thayyiban, adalah cerminan dari perilaku adil terhadap diri sendiri. Lalu stirahat yang cukup, tidak menyiksa diri sendiri seperti halnya mentato kulit, tidak bahkan menjauhi minuman khamar (alkohol), narkoba, dan lain sebagainya, adalah cerminan ia telah berlaku adil terhadap dirinya sendiri.

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Lalu yang ketiga berlaku adil kepada orang lain. Maksudnya adalah meletakkan dan bersikap kepada orang lain orang lain pada tempat yang seharusnya. Berperilaku adil kepada orang lain harus kita lakukan, dan hal itu kita lakukan kepada semuanya tidak terkecuali bahkan kepada musuh atau orang yang kita benci sekalipun, sebagaimana halnya dijelaskan dalam surat an-Nisa ayat ke-58 di atas.

        Sebagai renungan bagi kita semua mari kita sikapi hadits Rasulullah Saw., dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw., bersabda:

ماَ مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ، وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

       Tidaklah seorang hamba, Allah berikan amanah untuk memimpin rakyat, kemudian dia meninggal dunia dalam kondisi berbuat curang (tidak adil) terhadap rakyatnya, melainkan Allah haramkan dirinya dari surga. (HR. Muslim)

       Semoga kita dikaruniai Allah memiliki jiwa adil kepada diri sendiri dan orang lain dan Allah mengarunia kepada kita pemimpin yang adil. Aamiin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Oleh: Dr. H. Syarif Husain, S.Ag. M.Si

   

     

KEUTAMAAN MEMASUKI BULAN DZULHIJJAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِالل...