Selasa, 26 Mei 2026

Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah

 Idul Adha: Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah

Oleh: Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong

 

Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, bukan hanya tentang hewan kurban yang disembelih, bukan pula sekadar berkumpul bersama keluarga dan menikmati hidangan istimewa. Di balik suasana takbir yang menggema dan kebersamaan yang terasa hangat, tersimpan pelajaran yang sangat besar tentang keikhlasan, ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian kepada sesama.

Idul Adha mengingatkan umat Islam kepada kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS, kisah yang hingga hari ini tetap menjadi pelajaran sepanjang zaman.

 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Artinya:

"Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu. Dia (Ismail) menjawab: Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Bayangkan, Nabi Ibrahim yang bertahun-tahun menanti kehadiran seorang anak, justru diperintahkan
untuk mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya.

Namun beliau mengajarkan satu hal penting: ketaatan kepada Allah harus berada di atas segala-galanya.

Sebagian orang berpikir bahwa kurban hanya dilakukan ketika menyembelih kambing atau sapi. Padahal makna kurban jauh lebih luas dari itu.

Setiap hari sesungguhnya kita sedang belajar berkurban:

  • berkurban waktu untuk keluarga,
  • berkurban tenaga untuk kebaikan,
  • berkurban harta untuk membantu sesama,
  • berkurban ego demi menjaga persaudaraan,
  • bahkan berkurban keinginan diri demi ketaatan kepada Allah.

Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
(الحج: ٣٧)

Artinya:

"Daging dan darah kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian."

 Di era sekarang, manusia sering diuji bukan dengan kehilangan sesuatu, tetapi dengan kecintaan berlebihan terhadap dunia:

  • sibuk mengejar pekerjaan,
  • sibuk mengejar jabatan,
  • sibuk mengejar popularitas,
  • sibuk dengan media sosial,
  • hingga terkadang lupa pada keluarga dan ibadah.

Idul Adha hadir untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar mengejar dunia, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat hubungan dengan sesama manusia.

 

Mari jadikan Idul Adha bukan hanya acara tahunan, tetapi sebagai momentum untuk memperbaiki diri:

memperkuat keikhlasan
memperbanyak rasa syukur
mempererat silaturahmi
meningkatkan kepedulian sosial
memperkuat hubungan dengan Allah

Karena orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki harta paling banyak, tetapi yang memiliki hati yang penuh syukur dan kepedulian.

 Semoga Hari Raya Idul Adha tidak hanya menghadirkan kebahagiaan sesaat, tetapi juga menghadirkan perubahan dalam diri kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih ikhlas, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

"Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan amal ibadah kalian."

Mohon maaf lahir dan batin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah

  Idul Adha: Belajar Ikhlas, Berkorban, dan Menguatkan Ukhuwah Oleh: Abdul Rochim, S.H. Penyuluh Agama Islam KUA Winong   Hari Raya I...