Selasa, 28 Juli 2026

Pelita di Tengah Malam : Kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang Tidak Pernah Berhenti Belajar

"Belajar bukan perlombaan"

 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sahabat yang dirahmati Allah...

Hari ini kita sering mendengar kalimat,

"Saya sudah lulus."

"Saya sudah tua."

"Saya sudah bekerja, tidak perlu belajar lagi."

Seolah-olah belajar memiliki garis akhir.

Padahal...

Tahukah Anda?


Ada seorang ulama besar yang rambutnya telah memutih, janggutnya memenuhi uban, bahkan telah menjadi guru bagi ribuan orang...

Masih membawa tinta dan pena untuk belajar.

Ketika seseorang bertanya,

"Wahai Imam, sampai kapan kamu akan terus belajar?"

Beliau menjawab dengan satu kalimat yang kemudian dikenang sepanjang sejarah.

"Bersama tinta hingga masuk ke liang kubur."

Beliau adalah...

Imam Ahmad bin Hanbal.

Apa rahasia semangat beliau?

Mari kita simak kisahnya.

 

Suasana Kota Bagdad mulai sunyi.

Sebagian orang telah terlelap.

Namun...

Di sebuah rumah sederhana...

Masih tampak cahaya lampu minyak yang menyala.

Di hadapan cahaya itu duduk seorang lelaki tua.

Tangannya memegang pena.

Di sekelilingnya terdapat lembaran-lembaran hadis.

Sesekali beliau menulis.

Sesekali membaca.

Sesekali ulangi hafalan.

Beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal.

Seorang ulama besar.

Guru bagi para imam.

Penghafal lebih dari sejuta hadis beserta sanadnya menurut para ahli sejarah.

Tetapi...

Beliau tidak pernah merasa cukup.

Suatu hari seseorang melihat dia membawa tinta dan alat tulis.

Orang itu merasa heran.

"Wahai Imam Ahmad..."

“Engkau telah menjadi imam besar umat.”

“Mengapa masih membawa tinta untuk belajar?”

Imam Ahmad tersenyum.

Kemudian dia menjawab dengan tenang.

"Aku akan terus membawa tinta sampai masuk kubur."

Masya Allah...

Kalimat itu sederhana.

Namun mengandung lautan hikmah.

Beliau tidak pernah menganggap dirinya telah selesai belajar.

Semakin tinggi ilmunya...

Semakin besar rasa hausnya terhadap ilmu.

Beliau memahami bahwa ilmu Allah tidak akan pernah habis.

 

Sahabat...

Inilah penyakit yang sering menyerang zaman kita.

Baru membaca satu buku...

Merasa paling tahu.

Baru mendapat satu gelar...

Merasa paling pintar.

Baru viral satu video...

Merasa layak menggurui semua orang.

Padahal...

Semakin berilmu seseorang...

Semakin dia menyadari betapa sedikit yang dia ketahui.

Allah berfirman:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

"Tidaklah kalian diberi ilmu melainkan hanya sedikit." (QS. Al-Isra': 85)

Lihatlah Imam Ahmad.

Beliau telah menjadi rujukan dunia Islam.

Tetapi tetap duduk sebagai murid.

Karena beliau sadar...

Kesombongan adalah pintu tertutupnya ilmu.

Sedangkan tawadhu' adalah pintu datangnya keberkahan.

Hari ini...

Kita hidup di zaman internet.

Informasi memang mudah didapat.

Tetapi...

Ilmu yang benar tetap membutuhkan guru.

 

Jangan sampai kita merasa cukup hanya karena mesin pencari mampu menjawab pertanyaan.

Sebab...

Informasi bisa dicari dalam hitungan detik.

Tetapi hikmah lahir dari proses belajar seumur hidup.

 

Mari kita renungkan.

Sudah berapa buku yang kita baca tahun ini?

Sudah berapa majelis ilmu yang kami hadiri?

Sudah berapa kali kita membuka Al-Qur'an hanya untuk belajar memahami maknanya?

Jangan sampai usia terus bertambah...

Tetapi ilmu dan amal justru berhenti berkembang.

Imam Ahmad mengajarkan bahwa usia bukanlah alasan untuk berhenti belajar.

Karena selama nafas masih berhembus...

Allah masih membuka pintu ilmu.

 

Sahabat...

Tahun pelajaran baru bukan hanya milik anak sekolah.

Sungguh...

Setiap hari adalah tahun pelajaran baru bagi setiap mukmin.

Karena setiap hari Allah memberi kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Mari kita menjadi manusia yang tidak pernah berhenti belajar.

Belajar Al-Qur'an.

Belajar akhlak.

Belajar memperbaiki diri.

Belajar menjadi orang tua yang lebih baik.

Belajar menjadi guru yang lebih baik.

Belajar menjadi hamba Allah yang lebih dekat kepada-Nya.

Semoga Allah menjadikan hati kita selalu haus akan ilmu yang bermanfaat.

Memberikan kepada kita keikhlasan dalam belajar.

Dan mengumpulkan kita bersama para ulama di surga-Nya.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

 

"Teruslah membawa tinta hingga masuk ke liang kubur."

—Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

 

Allah Ta'ala berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan berkata: Ya Tuhanku, berikanlah padaku ilmu.” (QS. Thaha: 114)

Ayat ini sangat istimewa, karena merupakan satu-satunya permohonan agar ditambah sesuatu yang secara khusus Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad , yaitu tambahan ilmu.

 

Sahabat yang dirahmati Allah...

Jika hari ini kita merasa belum pandai, jangan berkecil hati. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita sampai, tetapi apakah kita terus melangkah. Jadikan semangat Imam Ahmad bin Hanbal sebagai inspirasi: belajar bukan sekedar untuk memperoleh gelar, melainkan untuk semakin mengenal Allah dan memberi manfaat kepada sesama.

Saya, Abdul Rochim, SH, Penyuluh Agama Islam KUA Winong, mengajak kita semua untuk menjadikan budaya belajar sebagai bagian dari ibadah. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang rendah hati, dan kekuatan untuk terus belajar hingga akhir hayat.

 

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Rabu, 22 Juli 2026

Kemerdekaan Tidak Hanya Direbut,Tetapi Harus Dirawat

 Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah...

Setiap kali bulan Agustus datang...

Merah putih kembali berkibar.

Lagu-lagu perjuangan kembali terdengar.

Anak-anak mengikuti lomba.

Jalan-jalan dekorasi umbul-umbul.

Semuanya mengingatkan kita...

Bahwa negeri ini pernah diperjuangkan dengan darah, air mata, dan doa.

Namun...

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri...

Apakah kemerdekaan hanya untuk dikenang?

Ataukah...

Kemerdekaan harus terus kita rawat?

 

Kemerdekaan bangsa ini bukan hadiah. Ia lahir dari pengorbanan. Ada ulama yang gugur. Ada santri yang berjuang. Ada rakyat kecil yang rela kehilangan keluarga demi berdirinya negeri ini.

Karena itu...

Tugas generasi sekarang bukan lagi merebut kemerdekaan.

Tetapi...

 

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu umat sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan suatu bangsa dimulai dari perubahan setiap individu.

Kalau kita ingin Indonesia semakin baik...

Maka dimulai dari diri sendiri.

 

Kalau dahulu musuh membawa senjata...

Hari ini musuh datang dengan wajah yang berbeda.

Ia bernama...

Kemalasan, Korupsi, Hoaks, Fitnah, Perpecahan, Narkoba, Pornografi, Kebencian di media sosial.

Musuh-musuh ini tidak terdengar dentuman senjatanya.

Tetapi perlahan...

Menghancurkan masa depan bangsa.

 

Merawat kemerdekaan tidak selalu harus di medan perang.

Seorang guru...

Merawat kemerdekaan dengan mendidik muridnya.

Petani...

Merawat kemerdekaan dengan menanam pangan.

Dokter...

Merawat kemerdekaan dengan menyembuhkan pasien. 

Penyuluh agama...

Merawat kemerdekaan dengan menyebarkan ilmu dan akhlak.

Orang tua...

Merawat kemerdekaan dengan mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang beriman.

Bahkan...

Seorang pelajar yang belajar sungguh-sungguh...

Sedang menjaga masa depan Indonesia.


 

Rasulullah ketika meninggalkan Kota Makkah pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahiran.

Hal ini menunjukkan bahwa mencintai negeri adalah fitrah manusia.

Namun...

Cinta tanah air bukan sekedar slogan.

Tetapi diwujudkan dengan menjaga persatuan, Menghormati perbedaan, Tidak merusak fasilitas umum, Tidak mengambil hak orang lain.

Karena... Bangsa yang kuat dibangun oleh masyarakat yang berakhlak.

 

Saudara-saudaraku...

Ada orang yang hidup di negeri merdeka...

Tetapi masih menjadi budak hawa nafsunya, Budak keserakahan, Budak Kemalasan, Budak media sosial.

Padahal...

Kemerdekaan sejati adalah ketika hati kita merdeka untuk taat kepada Allah.

Merdeka dari dosa, Merdeka dari tahbisan, Merdeka dari iri hati, Merdeka dari sifat zalim.

 

Mari jadikan bulan Agustus...

Bukan hanya ramai dengan lomba.

Tetapi juga ramai dengan introspeksi.

Mari bertanya kepada diri kita...

Apa yang sudah saya lakukan untuk negeri ini?

Apa manfaat yang sudah saya berikan kepada masyarakat?

Apakah saya sudah menjadi bagian dari solusi...

Atau justru menjadi bagian dari masalah?

Semoga Allah SWT menjaga Indonesia.

Menjadikan negeri ini baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr.

Melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, cinta agama, cinta bangsa, dan siap menjaga kemerdekaan dengan karya terbaik.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka Jiwanya. Maju Bangsanya. Mulia Akhlaknya.


Pesan Hikmah

“Kemerdekaan diwariskan oleh para pahlawan. Menjaganya adalah amanah bagi setiap generasi. Mari kita isi kemerdekaan dengan iman, ilmu, akhlak, dan karya yang bermanfaat.”

 

 

 

Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Tetap Teguh di Tengah Ketidakpastian: Aqidah yang Kokoh, Akhlak yang Mulia

 Assalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāhi Rabbil 'ālamīn. Segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta'ālā yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita untuk kembali berkumpul dalam majelis ilmu, meskipun melalui media podcast.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad , keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Saudaraku yang dirahmati Allah...

Beberapa waktu terakhir, banyak di antara kita merasakan kegelisahan. Harga kebutuhan pokok berubah, peluang usaha naik turun, lapangan pekerjaan menjadi tantangan, dan berbagai kebijakan yang terus berkembang membuat sebagian orang bertanya-tanya tentang masa depan.

Dalam keadaan seperti ini, seorang mukmin perlu memiliki pegangan yang kokoh. Pegangan itu bukan sekadar kemampuan membaca situasi, tetapi aqidah yang benar dan akhlak yang mulia. Itulah yang akan kita bahas hari ini.

Dunia Memang Tempat Ujian 

Saudaraku...

Allah tidak pernah menjanjikan bahwa kehidupan dunia akan selalu mudah.

Justru Allah mengingatkan bahwa dunia adalah tempat ujian.

Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)

Perhatikan ayat ini.

Allah tidak mengatakan "jika" ujian datang.

Tetapi Allah mengatakan "Kami pasti akan menguji kalian."

Artinya, ujian adalah bagian dari kehidupan setiap manusia.

Yang membedakan bukan siapa yang diuji.

Tetapi bagaimana seseorang menghadapi ujian itu.

 

Aqidah Mengajarkan Tawakal, Bukan Putus Asa

 SPORTIFY LENTERA
Seorang mukmin yakin bahwa Allah adalah Ar-Razzāq, Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki.

Allah berfirman:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

"Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya." (QS. Hud: 6)

Ini bukan berarti kita berpangku tangan.

Nabi mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar.

Beliau bersabda:

"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang."

(HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dinilai sahih oleh sebagian ulama)

Perhatikan, burung tidak menunggu makanan datang ke sarangnya. Ia terbang, berusaha, lalu bertawakal. Demikian pula seorang mukmin.

 

Jangan Mudah Terprovokasi 

Di masa yang penuh informasi seperti sekarang, kita mudah menerima berita yang belum tentu benar.

Allah SWT mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)

Akhlak seorang muslim adalah menjaga lisan dan jemarinya. Jangan menyebarkan kabar yang belum jelas. Jangan menambah keresahan masyarakat dengan informasi yang tidak terverifikasi.

 

Sabar Bukan Berarti Pasrah 

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

"الصبر بمنزلة الرأس من الجسد"

"Kedudukan sabar terhadap iman seperti kepala terhadap tubuh." ('Uddatush Shabirin)

Sabar memiliki tiga bentuk:

1.     Sabar dalam menaati Allah.

2.     Sabar meninggalkan maksiat.

3.     Sabar menghadapi takdir yang tidak menyenangkan.

Maka ketika ekonomi sedang sulit, jangan tinggalkan shalat.

Ketika usaha menurun, jangan mencari jalan yang haram.

Ketika keadaan belum sesuai harapan, jangan putus asa dari rahmat Allah.


Menjadi Penebar Optimisme

Rasulullah adalah teladan dalam menebarkan harapan.

Saat Perang Khandaq, kaum muslimin berada dalam keadaan sulit. Namun Rasulullah tetap menanamkan optimisme dan mengingatkan bahwa pertolongan Allah pasti datang.

Allah berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh: 5–6)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan "setelah kesulitan", tetapi "bersama kesulitan". Ini memberi harapan bahwa di tengah ujian pun Allah menghadirkan jalan keluar.

Ikhtiar yang Diberkahi 

Dalam menghadapi kondisi yang tidak menentu, mari lakukan ikhtiar yang diridhai Allah:

  • Perbanyak doa dan istighfar.
  • Jaga shalat lima waktu dan perbanyak shalat sunnah.
  • Tingkatkan keterampilan dan etos kerja.
  • Hindari utang yang tidak perlu.
  • Perkuat silaturahmi dan gotong royong.
  • Sisihkan sebagian rezeki untuk sedekah, meskipun sedikit.

Rasulullah bersabda:

"مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ"

"Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim)

 

Saudaraku...

Keadaan boleh berubah.

Ekonomi bisa naik dan turun.

Situasi sosial dapat mengalami pasang surut.

Namun jangan biarkan iman kita ikut goyah.

Peganglah aqidah dengan kuat.

Hiasi diri dengan akhlak yang mulia.

Teruslah berikhtiar, bersabar, bertawakal, dan berdoa.

Semoga Allah menjaga negeri kita, memberikan keberkahan kepada para pemimpinnya agar mampu menunaikan amanah dengan adil, melapangkan rezeki masyarakat, menguatkan persatuan, serta menjadikan kita hamba-hamba yang tetap teguh dalam iman di setiap keadaan.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

"Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah pendirian kami..."
(QS. Al-Baqarah: 250)

Aamiin yā Rabbal 'ālamīn.

Wassalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.



Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati




Pelita di Tengah Malam : Kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang Tidak Pernah Berhenti Belajar

"Belajar bukan perlombaan"   السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ Sahabat yang dirahmati Allah... Hari ini k...