Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah...
Setiap kali bulan Agustus datang...
Merah putih kembali berkibar.
Lagu-lagu perjuangan kembali terdengar.
Anak-anak mengikuti lomba.
Jalan-jalan dekorasi umbul-umbul.
Semuanya mengingatkan kita...
Bahwa negeri ini pernah diperjuangkan dengan darah, air mata,
dan doa.
Namun...
Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri...
Apakah kemerdekaan hanya untuk dikenang?
Ataukah...
Kemerdekaan harus terus kita rawat?
Kemerdekaan bangsa ini bukan hadiah. Ia lahir dari pengorbanan. Ada ulama yang gugur. Ada santri yang berjuang. Ada rakyat kecil yang rela kehilangan keluarga demi berdirinya negeri ini.
Karena itu...
Tugas generasi sekarang bukan lagi merebut kemerdekaan.
Tetapi...
Allah SWT berfirman:
إِنَّ
اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah keadaan suatu umat sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan
suatu bangsa dimulai dari perubahan setiap individu.
Kalau kita ingin Indonesia semakin
baik...
Maka dimulai dari diri sendiri.
Kalau dahulu musuh membawa senjata...
Hari ini musuh datang dengan wajah yang berbeda.
Ia bernama...
Kemalasan, Korupsi, Hoaks, Fitnah, Perpecahan,
Narkoba, Pornografi, Kebencian di media sosial.
Musuh-musuh ini tidak terdengar
dentuman senjatanya.
Tetapi perlahan...
Menghancurkan masa depan bangsa.
Merawat kemerdekaan tidak selalu harus di medan perang.
Seorang guru...
Merawat kemerdekaan dengan mendidik
muridnya.
Petani...
Merawat kemerdekaan dengan menanam
pangan.
Dokter...
Merawat kemerdekaan dengan
menyembuhkan pasien.
Penyuluh agama...
Merawat kemerdekaan dengan
menyebarkan ilmu dan akhlak.
Orang tua...
Merawat kemerdekaan dengan mendidik
anak-anaknya menjadi generasi yang beriman.
Bahkan...
Seorang pelajar yang belajar
sungguh-sungguh...
Sedang menjaga masa depan Indonesia.
Rasulullah ﷺ ketika meninggalkan Kota Makkah pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahiran.
Hal ini menunjukkan bahwa mencintai
negeri adalah fitrah manusia.
Namun...
Cinta tanah air bukan sekedar slogan.
Tetapi diwujudkan dengan menjaga
persatuan, Menghormati perbedaan, Tidak merusak fasilitas umum, Tidak mengambil
hak orang lain.
Karena... Bangsa yang kuat dibangun
oleh masyarakat yang berakhlak.
Saudara-saudaraku...
Ada orang yang hidup di negeri merdeka...
Tetapi masih menjadi budak hawa nafsunya, Budak keserakahan, Budak
Kemalasan, Budak media sosial.
Padahal...
Kemerdekaan sejati adalah ketika hati kita merdeka untuk taat
kepada Allah.
Merdeka dari dosa, Merdeka dari
tahbisan, Merdeka dari iri hati, Merdeka dari sifat zalim.
Mari jadikan bulan Agustus...
Bukan hanya ramai dengan lomba.
Tetapi juga ramai dengan introspeksi.
Mari bertanya kepada diri kita...
Apa yang sudah saya lakukan untuk
negeri ini?
Apa manfaat yang sudah saya berikan
kepada masyarakat?
Apakah saya sudah menjadi bagian dari
solusi...
Atau justru menjadi bagian dari
masalah?
Semoga Allah SWT menjaga Indonesia.
Menjadikan negeri ini baldatun ṭayyibatun
wa rabbun ghafūr.
Melahirkan generasi yang cerdas,
berakhlak, cinta agama, cinta bangsa, dan siap menjaga kemerdekaan dengan karya
terbaik.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka Jiwanya. Maju Bangsanya.
Mulia Akhlaknya.
Pesan Hikmah
“Kemerdekaan diwariskan oleh para
pahlawan. Menjaganya adalah amanah bagi setiap generasi. Mari kita isi
kemerdekaan dengan iman, ilmu, akhlak, dan karya yang bermanfaat.”
Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Winong

Tidak ada komentar:
Posting Komentar