Pernahkah kita merasa kecewa kepada pasangan karena ternyata ia tidak seperti yang kita bayangkan?
Sebelum menikah, mungkin kita membayangkan pasangan yang
selalu romantis, sabar, pengertian, perhatian, rajin beribadah, pandai
mengelola keuangan, selalu tersenyum, tidak pernah marah, dan selalu tahu apa
yang kita inginkan.
Namun setelah akad terucap dan kehidupan bersama dimulai,
kita baru menyadari:
Ternyata pasangan kita adalah manusia.
Ia bisa lelah.
Ia bisa lupa.
Ia bisa salah.
Ia bisa marah.
Ia punya kekurangan.
Dan yang lebih penting, kita pun ternyata sama.
Di sinilah perjalanan pernikahan yang sesungguhnya dimulai.
Pernikahan bukanlah pertemuan antara dua manusia yang
sempurna. Pernikahan adalah perjalanan dua manusia yang sama-sama memiliki
kekurangan, kemudian belajar saling menyempurnakan dalam kebaikan.
Maka, mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya:
“Mengapa pasangan saya tidak sempurna?”
Lalu menggantinya dengan pertanyaan:
“Sudahkah saya berusaha menjadi pasangan yang baik?”
Pernikahan Bukan Tentang Menemukan Manusia Tanpa
Kekurangan
Kita berharap mendapatkan pasangan yang baik, tetapi
terkadang lupa bahwa pasangan kita juga berharap mendapatkan pasangan yang
baik.
Kita ingin pasangan sabar menghadapi kita.
Tetapi apakah kita sudah sabar menghadapi pasangan?
Kita ingin pasangan memahami kesibukan kita.
Tetapi apakah kita sudah berusaha memahami kesibukannya?
Kita ingin pasangan memaafkan kesalahan kita.
Tetapi apakah kita mudah memaafkan kesalahannya?
Kita ingin dihargai.
Tetapi apakah kita sudah cukup menghargai?
Kita ingin didengarkan.
Tetapi apakah kita sudah bersedia mendengarkan?
Di sinilah kita sering keliru.
Kita sibuk mencari kualitas terbaik dari pasangan,
sementara lupa membangun kualitas terbaik dalam diri sendiri.
Padahal rumah tangga yang sehat tidak dibangun oleh dua
orang yang sempurna.
Ia dibangun oleh dua orang yang mau belajar, mengalah,
memaafkan, memperbaiki diri, dan bertumbuh bersama.
Allah Tidak Menjanjikan Pasangan Tanpa Kekurangan
Allah ﷻ
berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ
بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا
وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika
kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena boleh jadi kamu tidak
menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS.
An-Nisa’: 19)
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat dalam.
Tidak semua hal dalam pasangan akan selalu kita sukai.
Ada sifat pasangan yang mungkin berbeda dengan kita.
Ada kebiasaannya yang terkadang membuat kita kesal.
Ada cara berpikirnya yang tidak selalu sama dengan cara
berpikir kita.
Ada kekurangannya yang baru kita sadari setelah
bertahun-tahun hidup bersama.
Tetapi Islam mengajarkan kita untuk tidak buru-buru melihat
satu kekurangan lalu melupakan begitu banyak kebaikan.
Jangan biarkan satu noda membuat kita lupa pada seluruh
kebaikan yang telah diberikan pasangan.
Jangan Membandingkan Pasangan dengan Orang Lain
Salah satu racun paling berbahaya dalam rumah tangga adalah perbandingan.
“Suami orang lain kok romantis.”
“Istri orang lain kok lebih perhatian.”
“Lihat tetangga, ekonominya sudah mapan.”
“Suaminya selalu mengajak liburan.”
“Istrinya pintar mengurus rumah.”
Tanpa sadar, media sosial juga membuat kita semakin mudah
membandingkan.
Kita melihat pasangan orang lain tersenyum dalam sebuah
foto.
Kita melihat keluarga lain sedang berlibur.
Kita melihat hadiah ulang tahun yang diberikan seorang suami
kepada istrinya.
Kita melihat keromantisan pasangan lain.
Kemudian kita menatap pasangan sendiri dan berkata dalam
hati:
“Mengapa kamu tidak seperti dia?”
Padahal kita hanya melihat foto, bukan keseluruhan
kehidupan mereka.
Kita melihat senyumnya, tetapi tidak melihat air matanya.
Kita melihat liburannya, tetapi tidak melihat cicilannya.
Kita melihat romantisnya, tetapi tidak mengetahui bagaimana
mereka menyelesaikan konflik.
Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak mengetahui proses
panjang yang mereka jalani.
Karena itu, jangan jadikan kehidupan orang lain sebagai
standar untuk mengukur kebahagiaan rumah tangga kita.
Rumah tangga bukan kompetisi.
Tidak harus sama.
Tidak harus terlihat sempurna.
Yang penting adalah berkah, tenang, saling menjaga, dan
sama-sama mendekat kepada Allah.
Pasangan Kita Bukan Proyek untuk Diubah Sesuai Keinginan
Ada pasangan yang menikah dengan harapan:
“Nanti setelah menikah, dia akan berubah.”
Padahal perubahan seseorang tidak bisa dipaksakan hanya
karena kita menikah dengannya.
Kita bisa mengajak.
Kita bisa menasihati.
Kita bisa memberi teladan.
Kita bisa mendoakan.
Tetapi jangan merasa bahwa pasangan adalah proyek yang harus
kita bentuk sesuai dengan seluruh keinginan kita.
Sebab pernikahan bukan tentang:
“Aku akan mengubahmu menjadi seperti yang kuinginkan.”
Tetapi:
“Mari kita saling membantu menjadi manusia yang lebih
baik di hadapan Allah.”
Ada perbedaan besar antara keduanya.
Yang pertama berpotensi melahirkan tuntutan.
Yang kedua melahirkan kerja sama.
Lalu, Apa Artinya Menjadi “Pasangan yang Sempurna”?
Tentu kita tidak mungkin menjadi manusia yang benar-benar
sempurna.
Kesempurnaan manusia bukan berarti tidak pernah salah.
Kesempurnaan dalam konteks ini adalah kesungguhan untuk
terus memperbaiki diri dalam kebaikan.
Suami yang baik bukan suami yang tidak pernah marah.
Tetapi suami yang belajar mengendalikan marah.
Istri yang baik bukan istri yang tidak pernah kecewa.
Tetapi istri yang belajar menyampaikan kekecewaan dengan
cara yang baik.
Suami yang baik bukan yang selalu punya banyak uang.
Tetapi yang berusaha mencari nafkah dengan halal dan
bertanggung jawab.
Istri yang baik bukan yang selalu bisa memenuhi semua
keinginan suami.
Tetapi yang berusaha menjaga kehormatan, amanah, dan
kebaikan rumah tangga.
Orang tua yang baik bukan yang tidak pernah salah kepada
anak.
Tetapi yang mau mengakui kesalahan dan belajar menjadi lebih
baik.
Kesempurnaan bukan berarti tanpa kesalahan.
Kesempurnaan dalam kebaikan adalah tidak berhenti belajar
setelah melakukan kesalahan.
Rasulullah ﷺ Mengajarkan Cara Melihat Kebaikan Pasangan
Rasulullah ﷺ
bersabda:
لَا
يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika
ia tidak menyukai satu perangainya, ia akan menyukai perangainya yang lain.” (HR.
Muslim)
Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan rumah tangga.
Tidak ada manusia yang hanya memiliki sifat baik.
Tidak ada pula manusia yang hanya memiliki sifat buruk.
Mungkin pasangan kita kurang romantis, tetapi ia bertanggung
jawab.
Mungkin ia tidak pandai mengucapkan kata-kata manis, tetapi
ia selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.
Mungkin ia tidak pandai mengungkapkan perasaan, tetapi
diam-diam selalu mendoakan.
Mungkin pasangan kita memiliki kekurangan tertentu, tetapi
ada begitu banyak kebaikan yang selama ini kita nikmati.
Maka sebelum mengeluh tentang apa yang tidak kita miliki, cobalah
menghitung kembali apa yang selama ini Allah titipkan melalui pasangan kita.
Kadang yang Perlu Diperbaiki Bukan Pasangan, Tetapi Cara
Pandang Kita
Ada kalanya masalah rumah tangga bukan karena pasangan
terlalu buruk.
Bisa jadi karena ekspektasi kita terlalu tinggi.
Kita berharap pasangan selalu memahami tanpa kita
menjelaskan.
Kita berharap pasangan tahu apa yang kita pikirkan.
Kita berharap pasangan selalu romantis.
Kita berharap pasangan tidak pernah melakukan kesalahan.
Padahal pasangan bukan pembaca pikiran.
Ia manusia biasa yang juga memiliki beban, pekerjaan,
tekanan, dan masalah.
Maka jangan selalu bertanya:
“Mengapa dia tidak mengerti saya?”
Cobalah bertanya:
“Sudahkah saya menjelaskan dengan baik?”
Jangan selalu berkata:
“Dia tidak pernah berubah.”
Cobalah bertanya:
“Sudahkah saya memberi teladan?”
Jangan hanya berkata:
“Dia tidak pernah menghargai saya.”
Cobalah bertanya:
“Sudahkah saya menghargainya?”
Kadang perubahan rumah tangga tidak dimulai dari pasangan.
Perubahan dimulai dari orang yang bersedia lebih dahulu
memperbaiki diri.
Pernikahan Adalah Tempat Belajar Bersabar
Kalau seseorang ingin menikah hanya untuk mendapatkan
kebahagiaan, ia mungkin akan mudah kecewa.
Sebab pernikahan juga menghadirkan ujian.
Ada ujian ekonomi.
Ada ujian komunikasi.
Ada ujian keluarga besar.
Ada ujian pekerjaan.
Ada ujian kesehatan.
Ada ujian pengasuhan anak.
Ada ujian perbedaan karakter.
Dan semua itu membutuhkan kesabaran.
Allah ﷻ
berfirman:
إِنَّمَا
يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang
dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Maka ketika kita bersabar menghadapi pasangan dalam perkara
yang baik, jangan merasa bahwa kesabaran itu sia-sia.
Bisa jadi satu kesabaran yang kita tahan hari ini menjadi
sebab Allah menjaga keutuhan rumah tangga kita bertahun-tahun kemudian.
Jangan Menunggu Pasangan Berbuat Baik Lebih Dahulu
Ini yang sering menjadi persoalan.
Suami berkata:
“Kalau istri saya menghormati saya, saya akan
menghormatinya.”
Istri berkata:
“Kalau suami saya perhatian, saya juga akan perhatian.”
Akhirnya keduanya menunggu.
Suami menunggu istri berubah.
Istri menunggu suami berubah.
Dan rumah tangga berjalan dalam lingkaran yang tidak pernah
selesai.
Padahal kebaikan tidak harus menunggu dibalas.
Senyumlah lebih dahulu.
Ucapkan terima kasih lebih dahulu.
Minta maaf lebih dahulu.
Bertanya:
“Hari ini capek?”
lebih dahulu.
Memeluk pasangan setelah hari yang berat lebih dahulu.
Mengalah ketika keadaan membutuhkan lebih dahulu.
Bukan karena kita kalah.
Tetapi karena kita ingin rumah tangga menang.
Kadang yang dibutuhkan rumah tangga bukan siapa yang
paling benar, tetapi siapa yang bersedia lebih dahulu menebar kebaikan.
Jangan Jadikan Kekurangan Pasangan sebagai Senjata
Kesalahan yang pernah dilakukan pasangan jangan
terus-menerus digunakan sebagai amunisi setiap kali bertengkar.
“Kan dulu kamu pernah begini…”
“Dulu kamu juga pernah melakukan itu…”
“Makanya saya tidak percaya kamu…”
Kalau setiap kesalahan masa lalu terus diungkit, kapan rumah
tangga akan memiliki ruang untuk sembuh?
Memaafkan bukan berarti menganggap kesalahan itu tidak
pernah terjadi.
Memaafkan berarti kita memilih untuk tidak menjadikan
kesalahan masa lalu sebagai alat untuk terus menyakiti.
Jika pasangan telah benar-benar berusaha memperbaiki diri,
berikan ruang baginya untuk tumbuh.
Sebab kita pun pasti ingin ketika melakukan kesalahan,
diberikan kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Rumah Tangga yang Sakinah Bukan Rumah Tangga Tanpa
Konflik
Sering kali kita mengira rumah tangga sakinah adalah rumah tangga yang tidak pernah bertengkar.
Tidak selalu demikian.
Rumah tangga sakinah adalah rumah tangga yang ketika terjadi
masalah, keduanya masih ingat bahwa mereka berada di pihak yang sama.
Bukan:
suami melawan istri.
Bukan:
istri melawan suami.
Tetapi:
suami dan istri bersama-sama menghadapi masalah.
Masalahnya adalah musuh.
Bukan pasangannya.
Kalimat sederhana ini bisa mengubah banyak hal.
Ketika pasangan melakukan kesalahan, jangan buru-buru
berpikir:
“Kamu adalah masalah dalam hidupku.”
Tetapi cobalah:
“Ada masalah yang harus kita selesaikan bersama.”
Perbedaan kalimat mungkin sederhana.
Tetapi dampaknya luar biasa.
Ingat: Kita Menikah dengan Pasangan, Bukan dengan Versi
Ideal dalam Pikiran Kita
Ada orang yang sebenarnya tidak kecewa kepada pasangannya.
Ia kecewa karena pasangannya tidak sesuai dengan versi
ideal yang ada di kepalanya.
Ia membandingkan pasangan nyata dengan pasangan imajinasi.
Padahal pasangan imajinasi tidak pernah lelah.
Tidak pernah salah.
Tidak pernah lupa.
Tidak pernah marah.
Tidak pernah punya masalah.
Sementara pasangan kita adalah manusia nyata.
Ia pulang dalam keadaan lelah.
Ia terkadang salah bicara.
Ia terkadang lupa.
Ia memiliki luka masa lalu.
Ia memiliki tekanan hidup.
Ia sedang belajar.
Dan begitu pula kita.
Karena itu, belajar mencintai pasangan sebagaimana adanya,
sambil tetap mengajaknya bertumbuh menjadi lebih baik.
Itulah cinta yang dewasa.
Mulailah dari Diri Sendiri
Jika hari ini rumah tangga terasa kurang hangat, jangan
langsung bertanya:
“Apa yang harus dilakukan pasangan saya?”
Cobalah bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan?”
Jika komunikasi mulai dingin, mulailah membuka percakapan.
Jika jarang mengucapkan terima kasih, mulailah menghargai.
Jika terlalu sering mengkritik, mulailah memberi apresiasi.
Jika terlalu sibuk dengan pekerjaan, sisihkan waktu untuk
keluarga.
Jika selama ini lebih sering menuntut, mulailah memberi.
Jika selama ini mudah marah, belajarlah menahan diri.
Jika selama ini sulit meminta maaf, belajarlah mengucapkan:
“Maaf, mungkin cara saya salah.”
Kalimat sederhana itu terkadang mampu menyelamatkan
percakapan yang hampir berubah menjadi pertengkaran.
Karena Pernikahan Adalah Ibadah
Pada akhirnya, kita perlu kembali kepada tujuan besar
pernikahan.
Pernikahan bukan hanya tentang memiliki seseorang untuk
menemani makan, tidur, bepergian, atau berbagi cerita.
Pernikahan adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.
Kita ingin memiliki pasangan yang membantu kita menjadi
lebih baik.
Yang mengingatkan ketika kita lupa.
Yang menenangkan ketika kita gelisah.
Yang menguatkan ketika kita lemah.
Yang menegur ketika kita salah.
Yang menemani dalam ketaatan.
Maka jangan hanya mencari
pasangan yang bisa membuat kita bahagia.
Carilah dan jadilah pasangan
yang bisa saling membawa menuju keberkahan.
Sebab pada akhirnya, yang kita
cari bukan sekadar rumah tangga yang terlihat bahagia di mata manusia.
Kita menginginkan rumah tangga
yang diridhai Allah.
Untuk Suami, Jadilah Suami
yang Baik
Tidak perlu menunggu istri
menjadi sempurna untuk menjadi suami yang baik.
Hormati dia.
Dengarkan ceritanya.
Hargai perjuangannya.
Jaga lisannya dari hinaan.
Jangan mempermalukannya.
Berikan nafkah dari jalan yang
halal.
Bantu ketika ia kelelahan.
Dan jangan lupa mengatakan:
“Terima kasih sudah menjadi
bagian dari hidup saya.”
Mungkin kalimat itu sederhana.
Tetapi bagi seorang istri,
penghargaan sering kali jauh lebih berharga daripada seribu nasihat.
Untuk Istri, Jadilah Istri
yang Baik
Tidak perlu menunggu suami
sempurna untuk menjadi istri yang baik.
Hormati suami dalam perkara yang
ma'ruf.
Jaga amanah.
Hargai perjuangannya.
Jangan bandingkan dirinya dengan
laki-laki lain.
Jadilah tempat pulang yang
menenangkan.
Jika ia sedang lemah, kuatkan.
Jika ia sedang gagal, jangan
jadikan kegagalannya sebagai bahan untuk merendahkan.
Karena seorang suami mungkin bisa
menghadapi kerasnya dunia di luar rumah, tetapi ia tetap membutuhkan rumah
sebagai tempat menemukan ketenangan.
Dan untuk Kita Semua…
Mari berhenti mengejar pasangan
yang sempurna.
Karena bisa jadi, pasangan
terbaik bukanlah pasangan yang memenuhi seluruh daftar keinginan kita.
Pasangan terbaik adalah seseorang
yang bersamanya kita belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Mungkin ia tidak sempurna.
Tetapi ia mau belajar.
Mungkin ia pernah salah.
Tetapi ia mau meminta maaf.
Mungkin ia memiliki banyak
kekurangan.
Tetapi ia tidak berhenti
memperbaiki diri.
Dan mungkin kita pun demikian.
Kita tidak sempurna.
Tetapi kita bisa saling
menyempurnakan dalam kebaikan.
Sebuah Renungan untuk Pasangan
Malam ini, ketika rumah mulai
sunyi dan pasangan berada di samping kita, cobalah berhenti sejenak.
Lihat wajahnya.
Ingat kembali hari ketika kita
mengucapkan akad.
Ingat perjuangan yang sudah
dilalui.
Ingat bagaimana ia pernah
menemani kita ketika susah.
Ingat bagaimana ia pernah
mendoakan kita.
Ingat bagaimana ia tetap bertahan
ketika keadaan tidak mudah.
Kemudian tanyakan kepada diri
sendiri:
“Apakah selama ini aku lebih
banyak menuntut atau lebih banyak bersyukur?”
“Apakah aku lebih sering
menghitung kekurangannya atau mengingat kebaikannya?”
“Apakah aku ingin dia berubah,
sementara aku sendiri enggan berubah?”
Dan mungkin malam ini, tidak
perlu ada ceramah panjang.
Cukup genggam tangannya.
Lalu katakan:
“Maaf kalau selama ini aku
belum menjadi pasangan yang baik. Mari kita belajar menjadi lebih baik
bersama-sama.”
Barangkali kalimat sederhana itu
menjadi awal dari babak baru dalam rumah tangga.
Karena Cinta Bukan Tentang
Kesempurnaan
Cinta yang dewasa tidak berkata:
“Aku mencintaimu karena kamu
sempurna.”
Tetapi berkata:
“Aku tahu kamu memiliki
kekurangan. Aku juga punya kekurangan. Mari kita saling membantu untuk menjadi
lebih baik.”
Pernikahan bukan tentang dua
manusia tanpa cela.
Pernikahan adalah tentang dua
manusia yang bersedia saling menjaga ketika salah satu sedang lemah.
Tentang dua manusia yang belajar
memaafkan.
Tentang dua manusia yang belajar
menahan ego.
Tentang dua manusia yang saling
menguatkan.
Dan tentang dua manusia yang
berharap, kelak ketika perjalanan dunia ini selesai, mereka bisa kembali
berkumpul dalam kehidupan yang lebih baik di sisi Allah.
Maka jangan terlalu sibuk
mencari:
“Di mana pasangan yang
sempurna?”
Lebih baik tanyakan:
“Sudahkah aku menjadi pasangan
yang baik?”
Karena boleh jadi, kebahagiaan
rumah tangga tidak dimulai ketika kita menemukan pasangan yang sempurna.
Kebahagiaan itu dimulai ketika
kita berhenti menuntut kesempurnaan dan mulai belajar menghadirkan kebaikan.
Jangan menuntut pasangan
sempurna.
Belajarlah menjadi pasangan
yang sempurna dalam kebaikan.
Sebab rumah tangga yang indah
bukan rumah tangga tanpa kekurangan.
Rumah tangga yang indah adalah
rumah tangga yang setiap kekurangan dihadapi dengan kesabaran, setiap kesalahan
disikapi dengan kasih sayang, dan setiap langkah diarahkan untuk semakin dekat
kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan setiap keluarga kita sebagai
keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Semoga Allah melembutkan hati para suami dan istri.
Menguatkan mereka yang sedang diuji.
Menyatukan kembali hati yang mulai berjauhan.
Mengajarkan kita untuk lebih mudah memaafkan daripada
menyalahkan.
Lebih mudah bersyukur daripada mengeluh.
Lebih senang memberi daripada menuntut.
Dan lebih sibuk memperbaiki diri daripada mencari kesalahan
pasangan.
Karena pasangan kita bukan manusia sempurna.
Dan kita pun bukan manusia sempurna.
Tetapi bersama-sama, kita bisa menjadi pasangan yang lebih
baik.
Bukan sempurna di hadapan manusia, tetapi berusaha
menjadi pasangan yang baik di hadapan Allah.
Abdul Rochim, S.H.
Penyuluh Agama Islam
KUA Kecamatan Winong


